Dolar Terus Melaju, Rupiah Melemah 34 Poin di Awal Dagang

Penguatan dolar AS yang terus berlanjut berkat sokongan kebijakan dan moneter Paman Sam memaksa tetap berada di zona merah pada awal dagang hari ini (3/10). Seperti dipaparkan Bloomberg Index, Garuda membuka transaksi dengan 34 poin atau 0,25% menuju level Rp13.574 per dolar AS. Sebelumnya, pada akhir kemarin (2/10), spot ditutup di posisi Rp13.540 per dolar AS.

“Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed yang masih cukup tinggi, yaitu di atas 80%, terus memacu kinerja dolar AS sehingga melemahkan mata uang sejumlah lain, termasuk rupiah,” ulas Research and Analyst Monex Investindo Futures, Putu Agus Pransuamitra. “Selain itu, sentimen negatif terhadap rupiah juga berasal dari isu rencana reformasi oleh Presiden AS, Donald Trump.”

Meski kemarin Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa data inflasi bulan September 2017 masih terkendali, Putu menambahkan, tetapi untuk saat ini kabar dari luar negeri masih mendominasi . Untuk hari ini, ia pun memperkirakan laju rupiah masih akan dipengaruhi oleh rilis data oleh pemerintah AS. “Jika hasilnya di atas ekspektasi, bukan tidak mungkin dolar AS bakal kembali unggul,” sambung Putu.

Mayoritas mata uang emerging market di Asia memang melemah, memperpanjang aksi jual pekan lalu, ketika tren penguatan dolar AS terus berlanjut seiring dengan optimisme bahwa Donald Trump akan membuat kemajuan dalam rencana reformasi pajaknya. Di samping itu, masih ada ekspektasi penaikan suku bunga The Fed di akhir tahun.

“Mata uang Asia melemah karena dolar AS tetap mendapatkan dukungan,” kata kepala riset pasar global Asia Tenggara di Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Sook Mei Leong. “Pasar melihat pemulihan dalam pembelian dolar AS. Selain itu, masih ada juga ekspektasi penaikan suku bunga Fed.”

Selanjutnya, investor akan memantau perkembangan pembentukan pemerintah koalisi di Jerman dan Selandia Baru setelah pemilihan yang digelar bulan lalu tidak memunculkan partai mayoritas. Sementara, data AS berikutnya yang akan dinantikan pekan ini di antaranya, data barang tahan lama (durable goods) dan laporan nonfarm payroll bulan September 2017.

Loading...