Dolar Tertolong Imbal Hasil Obligasi, Rupiah Berakhir Anjlok 29 Poin

Imbal hasil AS yang menguat memberikan dorongan kepada the sekaligus menekan laju sejumlah Asia, termasuk rupiah. Menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda harus menutup perdagangan Kamis (27/10) ini dengan melemah 29 poin atau 0,22% ke level Rp13.033 per AS.

Pelemahan rupiah sudah terjadi sejak awal dagang dengan 15 poin atau 0,12% ke posisi Rp13.019 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda makin terbenam dengan anjlok 41 poin atau 0,32% ke level Rp13.045 per dolar AS. Kemudian, jelang tutup dagang atau pukul 15.38 WIB, spot masih tertahan di zona merah dengan turun 20 poin atau 0,15% ke posisi Rp13.024 per dolar AS.

Seperti diketahui, imbal hasil hingga dini hari tadi naik di tengah spekulasi bahwa Federal Reserve bakal menaikkan suku bunga acuan tahun ini sekaligus mendorong laju dolar AS untuk bergerak menguat. Peluang kenaikan suku bunga pada Desember tercatat sebesar 74% menurut FedWatch CME Group. “Ini murni cerita yield (obligasi) AS,” ujar Ahli Strategi UBS Wealth Management, Tan Teck Leng.

Sebelumnya, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan data kepercayaan konsumen AS yang di bawah ekspektasi memang sempat membuat dolar AS terpeleset. Namun, kenaikan mata uang Garuda masih tertahan harga komoditas yang mulai melemah. “Harga minyak ikut memengaruhi, lihat saja ringgit Malaysia juga turun,” katanya.

Selain rupiah, pergerakan mayoritas mata uang Asia juga terpantau melemah terhadap dolar AS. Hingga Kamis siang, won Korea Selatan terpantau memimpin pelemahan dengan anjlok 0,71%, disusul ringgit Malaysia yang turun 0,6%, dan peso Filipina yang terdepresiasi 0,4%.

Loading...