Dolar Terpuruk, Rupiah Berjaya di Akhir Pekan

Rupiah - bisnis.tempo.coRupiah - bisnis.tempo.co

mampu mempertahankan posisi di zona hijau pada Jumat (12/10) sore, memanfaatkan pelemahan yang dialami , imbas menurunnya kinerja imbal Treasury dan saham Wall Street. Menurut laporan Index pukul 15.01 WIB, mata uang Garuda terpantau menguat 38 poin atau 0,25% ke level Rp15.197 per .

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp15.194 per AS, mengalami apresiasi sebesar 59 poin atau 0,39% dari perdagangan sebelumnya di level Rp15.253 per AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang perkasa versus greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 1,08% menghampiri won Korea Selatan.

Dari global, indeks dolar AS diperdagangkan lebih rendah pada akhir pekan, dipicu penurunan imbal hasil Treasury AS dan juga kinerja saham Wall Street yang terus melorot. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,023 poin atau 0,02% ke level 94,994 pada pukul 11.04 WIB, setelah kemarin sudah berakhir drop 0,491 poin atau 0,51% di posisi 95,017.

Seperti diwartakan Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average kemarin ditutup menurun 2,13% pada level 25,052, atau posisi terendah dalam dua bulan, sedangkan indeks S&P 500 berakhir 2,05% lebih rendah. Sementara itu, yield Treasury AS tenor 10 tahun jatuh ke 3,1705% pada hari Jumat, setelah sempat mencapai puncak dalam tujuh tahun pada hari Selasa.

Indeks harga konsumen AS yang hanya naik sebesar 0,1% secara bulanan juga menggerogoti laju dolar AS, karena membuat investor mengurangi taruhan mengenai kenaikan suku The Fed. Sebelumnya, pejabat The Fed pada bulan lalu sempat mengatakan bahwa bank sentral memperkirakan tiga kali kenaikan suku pada 2019, dan terbuka peluang untuk menaikkan suku pada Desember mendatang.

Mata uang yang menerima paling tinggi dari pelemahan dolar AS adalah euro, yang mencapai level tertinggi mingguan di posisi 1,6003 per dolar AS, selain menerima dukungan dari pertemuan European Central Bank (ECB). Risalah menyarankan ECB berada di jalur untuk menormalkan kebijakan moneter ultra-loose tahun ini, meski ada kekhawatiran perlambatan pertumbuhan di Benua Biru.

“Kita telah mendengar cukup banyak komentar dari pembuat kebijakan zona Eropa baru-baru ini tentang meningkatnya inflasi, termasuk dari Presiden ECB, Mario Draghi, dan pesannya konsisten bahwa tekanan harga sedang meningkat,” ujar direktur pelaksana strategi valuta asing di BK Asset Management, Kathy Lien. “Bagian dari ini adalah harga minyak yang lebih tinggi, tetapi euro yang lemah juga meningkatkan inflasi.”

Loading...