Dolar Terpeleset, Rupiah Ditutup Menguat 0,11%

Rupiah menguatRupiah menguat pada perdagangan Senin (6/4) sore - katadata.co.id

JAKARTA – ternyata mampu bangkit ke teritori hijau pada perdagangan Senin (6/4) sore ketika AS terpeleset walau tengah diburu di tengah pandemi . Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda ditutup menguat 17 poin atau 0,11% ke level Rp16.413 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) di posisi Rp16.556 per , terdepresiasi 92 poin atau 0,55% dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.464 per . Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang juga takluk melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,46% dialami ringgit Malaysia.

“Pasar masih mencari aset investasi aman, yaitu dolar AS, di tengah berlangsungnya pandemi COVID-19 yang mengancam pertumbuhan seluruh negara,” ujar Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir Bisnis, pagi tadi. “Rupiah pada perdagangan hari ini berpotensi masih melemah di level Rp16.400 hingga Rp16.600 per dolar AS.”

Dari pasar global, pound sterling tak berkutik di hadapan dolar AS dan euro pada hari Senin setelah Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, harus dirawat di rumah sakit untuk menjalani tes setelah menunjukkan gejala-gejala mirip virus . Mata uang Inggris melemah 0,33% terhadap dolar AS serta turun 0,37% melawan euro.

Seperti diberitakan Reuters, Johnson mengakui apa yang dikatakan Downing Street sebagai ‘langkah pencegahan’ karena ia menunjukkan gejala COVID-19 yang persisten 10 hari setelah dites positif untuk virus corona baru. Yang juga membebani pound sterling adalah bahwa konstitusi Inggris tidak menawarkan wakil formal yang akan mengambil alih jika Johnson tidak dapat terus memimpin.

Yen juga jatuh terhadap greenback dan mata uang antipodean setelah media Jepang melaporkan bahwa Perdana Menteri Shinzo Abe dapat menyatakan keadaan darurat pada hari Selasa (7/4) untuk menghambat penyebaran infeksi coronavirus. Hingga Minggu (5/4) kemarin, virus corona telah menjangkiti lebih dari 1.000 orang dan menewaskan 77 di antaranya.

“Ketika seorang kepala negara atau pemerintah dihantam seperti ini, itu akan menimbulkan kekhawatiran bagi pemegang aset pound sterling,” kata kepala strategi mata uang di Mizuho Securities di Tokyo, Masafumi Yamamoto. “-kasus coronavirus di Jepang mungkin tidak mencapai puncaknya selama sebulan lagi, sehingga pasar akan berpikir bahwa sekarang giliran Jepang.”

Loading...