Dolar Terlalu Perkasa, Rupiah Ditutup Merosot 82 Poin

Rupiah - www.aktual.comRupiah - www.aktual.com

Rupiah harus menutup perdagangan awal pekan (23/4) ini di area merah, setelah greenback bergerak mendekati level tertinggi dua minggu, didukung kenaikan imbal hasil obligasi . Menurut laporan Index pukul 15.59 WIB, NKRI menyelesaikan dengan pelemahan sebesar 82 poin atau 0,59% ke level Rp13.975 per .

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup anjlok 108 poin atau 0,78% di posisi Rp13.893 per AS pada akhir pekan (20/4) kemarin. Tren negatif mata uang Garuda berlanjut pagi tadi dengan dibuka 15 poin atau 0,11% ke level Rp13.908 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis tidak mampu keluar dari teritori merah, mulai awal hingga tutup dagang.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.894 per dolar AS, melorot 90 poin atau 0,65% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.804 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berkutik versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,35% menghampiri dolar Taiwan.

Dari pasar , indeks dolar AS masih diperdagangkan di rentang level tertinggi dua minggu pada hari Senin, didukung oleh kenaikan imbal hasil obligasi AS serta pelemahan yang dialami aset safe haven seperti yen Jepang. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,0085 poin atau 0,09% ke level 90,401 pada pukul 11.06 WIB.

Seperti dilansir dari Reuters, kenaikan imbal hasil obligasi AS membantu mendukung greenback, dengan yield Treasury 10 tahun AS menyentuh puncak 2,968% di pasar Asia, tertinggi sejak Januari 2014 di. Kenaikan imbal hasil obligasi AS terutama didukung pernyataan pejabat yang mengisyaratkan kenaikan suku bunga lebih lanjut pada tahun ini.

“Momentum penguatan dolar AS setidaknya akan berlangsung terus sampai kabar negatif berikutnya muncul,” ujar kepala perdagangan Asia Pasifik untuk OANDA di Singapura, Stephen Innes. “Selain kekhawatiran atas risiko geopolitik, kekhawatiran atas ketegangan perdagangan antara AS dan China tampaknya telah mulai memudar.”

Loading...