Dolar Terkoreksi, Rupiah Berbalik Menguat di Akhir Selasa

Rupiah - www.komoditas.co.idRupiah - www.komoditas.co.id

JAKARTA – sanggup memanfaatkan pelemahan yang dialami dolar AS untuk bergerak naik pada Selasa (13/11) sore, bersama dengan mayoritas kurs Asia yang juga menguat terhadap greenback. Menurut Index pada pukul 15.54 WIB, mata uang Garuda mengakhiri dengan menguat 15 poin atau 0,10% ke level Rp14.805 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.895 per dolar AS, terdepresiasi 148 poin atau 1% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.747 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia menguat terhadap greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,6% menghampiri baht Thailand.

Dari , indeks dolar AS diperdagangkan sedikit lebih rendah di bawah level tertinggi 16 bulan pada hari Selasa, dipicu oleh ketidakpastian politik di kawasan Eropa dan kekhawatiran investor akan perlambatan global. Mata uang Paman Sam terpantau berbalik melemah 0,059 poin atau 0,06% ke level 97,483 pada pukul 11.17 WIB, setelah kemarin berakhir positif.

Seperti dilansir dari US News, kepercayaan investor saat ini tengah terkikis oleh ketegangan perdagangan AS-China yang tidak kunjung berakhir, kekhawatiran mengenai negosiasi Brexit yang belum selesai, serta kebuntuan pembicaraan Uni Eropa dan Roma terkait defisit Italia yang makin mendalam. Selain itu, kekhawatiran bertambah seiring pandangan bahwa pertumbuhan perusahaan telah mencapai puncaknya di tengah meningkatnya biaya pinjaman.

“Dolar AS telah menurun dari level tertinggi 16 bulan di belakang pembelian aset safe haven, yang dipicu oleh penurunan ekuitas serta aksi jual euro dan pound sterling,” terang chief operating officer di Rakuten Securities, Nick Twidale. “Yen Jepang sekarang akan lebih aman daripada dolar AS jika saham mengalami koreksi lebih lanjut. Kami melihat penurunan greenback di skenario tersebut.”

Mata uang Paman Sam akhir-akhir ini memang lebih diincar oleh investor daripada yen Jepang, karena kebijakan moneter dan Bank of Japan, yang diperkirakan akan mempertahankan pengaturan kebijakan moneter ultra-longgar guna menghadapi inflasi yang lamban. Namun, para analis percaya bahwa yen akan kembali rebound jika sentimen risiko global memburuk berkat status safe haven-nya.

Loading...