Dolar Tergelincir, Rupiah Rebound di Akhir Rabu

Rupiah - www.harnas.coRupiah - www.harnas.co

JAKARTA – ternyata mampu bangkit ke zona hijau pada detik-detik akhir perdagangan hari Rabu (22/5), memanfaatkan gerak indeks dolar AS yang harus terpeleset di tengah yang kembali turun. Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup menguat 18 poin atau 0,12% ke level Rp15.450 per dolar AS.

“Rupiah masih akan melanjutkan tren pelemahan dalam perdagangan hari ini karena permintaan dolar AS sedang meningkat di bulan April ketika perusahaan harus membayar dividen kuartal pertama,” prediksi Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, pagi tadi seperti dilansir Bisnis. “Selain itu, harga minyak yang ke level terendah serta adanya spekulasi mengenai kondisi pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, juga menyebabkan kekhawatiran .”

Sementara itu, Bank Indonesia menetapkan kurs tengah atau kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) di posisi Rp15.567 per dolar AS, menguat 76 poin atau 0,48% dari perdagangan sebelumnya di level Rp15.643 per dolar AS. Sekadar informasi, rentang waktu pengambilan data JISDOR adalah pukul 08.00 hingga 09.45 WIB menggunakan metode penghitungan rata-rata tertimbang berdasarkan volume transaksi dan diumumkan pada pukul 10.00 WIB.

Dari global, indeks dolar AS harus berbalik ke zona merah pada Rabu sore, ketika harga minyak yang sempat naik gagal menenangkan , menggarisbawahi prospek suram untuk global. Mata uang Paman Sam terpantau terdepresiasi 0,192 poin atau 0,19% ke level 100,066 pada pukul 14.51 WIB, setelah sempat naik tipis pada pagi hari.

Seperti diberitakan Reuters, greenback sempat duduk tepat di bawah level tertinggi dua minggu terhadap sekeranjang mata uang utama dan nyaris tidak bergerak terhadap mata uang komoditas yang harus merugi, bahkan ketika harga minyak mentah AS berhasil rebound 20%. Di sisi lain, yen Jepang bertahan di posisi 107,83 terhadap dolar AS dan stabil menghadapi dolar Kanada dan krone Norwegia.

Harga minyak mentah AS yang pulih memang mengangkatnya keluar dari wilayah negatif. Namun, harganya masih sedikit di bawah 14 per barel dolar AS, sekitar 80% di bawah harga puncak pada bulan Januari, karena konsumsi energi semakin menurun lantaran kebijakan lockdown terkait coronavirus, yang akhirnya menyebabkan kelebihan pasokan.

Loading...