Senin Sore, Rupiah Menguat Usai Dolar Tergelincir

Rupiah menguat pada transaksi Senin (18/5) sore - tirto.id

JAKARTA – Setelah bergerak fluktuatif, rupiah sukses bertengger di zona hijau pada transaksi Senin (18/5) sore ketika mata uang greenback terpantau terpeleset di tengah tensi perdagangan antara dan . Menurut laporan Index pada pukul 14.57 WIB, mata uang Garuda ditutup menguat 10 poin atau 0,07% ke level Rp14.850 per AS.

Sementara itu, data pagi tadi menunjukkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.885 per dolar AS, menguat 24 poin atau 0,16% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.909 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia berada di area merah, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,09% menghampiri peso Filipina.

Dari global, indeks dolar AS sedikit goyah pada hari Senin karena optimisme investor tentang pembukaan kembali ekonomi di seluruh dunia mengangkat harga barang komoditas dan mata uang eksportir, sedangkan pembicaraan tentang negatif menahan pound sterling mendekati level terendah hampir dua bulan. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,039 poin atau 0,04% ke level 100,363 pada pukul 12.17 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, ketika pusat-pusat wabah virus , dari New York ke Italia, secara bertahap mengangkat pembatasan, peningkatan sentimen juga mendukung mata uang Asia lainnya. Namun, ketegangan antara Amerika Serikat dan Cina membuat sentimen secara keseluruhan tetap belum mendukung untuk keuntungan yang lebih luas.

“Ada tiga rintangan yang harus dilintasi, yakni bentuk pemulihan ekonomi, ketegangan antara China AS, serta kebijakan moneter yang tidak konvensional,” kata analis Bank of Singapore FX, Moh Siong Sim. “Saya pikir dolar AS akan menetap di kisaran perdagangan yang luas, menunggu untuk melihat bagaimana semua ketidakpastian makro ini keluar.”

Pasar diselimuti kegelisahan setelah tindakan administrasi , Donald Trump, yang memblokir pasokan chip ke Huawei kemungkinan akan dibalas oleh China, demikian menurut surat kabar Global Times. Risiko perdagangan AS-China ini mengkhawatirkan karena kemungkinan Negeri Panda tidak akan dapat memenuhi komitmen perdagangan fase pertama dan menghadapi kritik tentang penanganan COVID-19.

Loading...