Proyeksi Ekonomi Fed Angkat Dolar, Rupiah Berakhir Negatif

Rupiah - bisnis.tempo.coRupiah - bisnis.tempo.co

JAKARTA – Setelah bergerak , rupiah akhirnya harus mengakhiri Kamis (11/6) sore di area merah, saat proyeksi mengenai suramnya AS membuat investor berlari dari aset berisiko. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 14.57 WIB, Garuda ditutup melemah 40 poin atau 0,29% ke level Rp14.020 per dolar AS.

Sementara itu, data yang dirilis Bank hari ini menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.014 per dolar AS, menguat 69 poin atau 0,48% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.083 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang sukses mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,78% dialami baht Thailand.

“Hasil rapat Federal Reserve dini hari tadi menjadi ‘mover’ untuk rupiah pada perdagangan kali ini,” tutur Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, dilansir Antara. “Namun, pernyataan The Fed menyiratkan ekonomi global tidak akan pulih seperti sebelum wabah dalam waktu dekat. Selain itu, juga perlu mewaspadai gelombang kedua di negara yang sudah membuka ekonomi mereka.”

Dari pasar global, pergerakan indeks dolar AS sendiri relatif stabil terhadap mata uang berisiko, sedangkan aset safe haven yen Jepang mencapai posisi tertinggi satu bulan pada hari Kamis, karena prospek ekonomi AS yang suram menakuti investor. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,276 poin atau 0,29% ke level 96,235 pada pukul 14.50 WIB.

Seperti disalin dari Reuters, Federal Reserve dalam rapat kebijakan mereka memproyeksikan ekonomi AS akan menyusut 6,5% pada tahun 2020 ini, sedangkan tingkat pengangguran diperkirakan menjadi 9,3% pada akhir tahun. Itulah adalah prediksi yang lebih suram daripada kebanyakan investor, mengirim keluar dari saham, menjauh dari mata uang berisiko untuk memilih obligasi dan dolar AS.

“Itu adalah tindak lanjut dan memainkan peran dalam rebound luas yang dialami dolar AS,” ujar analis FX di National Australia Bank di Sydney, Rodrigo Catril. “Namun, yang perlu dicermati adalah bahwa Federal Reserve tetap berkomitmen penuh untuk mendukung kebijakan moneter ultra-mudah, yang seharusnya mendukung aset berisiko.”

Loading...