Dolar Terlalu Perkasa, Rupiah Berakhir Melemah

Rupiah melemahRupiah melemah pada perdagangan Senin (29/3) sore - ijn.co.id

JAKARTA – harus menerima nasib terbenam di zona merah pada Senin (29/3) sore imbas pergerakan yang cenderung mantap karena didukung kekuatan AS dan peluncuran vaksin yang berjalan jauh lebih cepat. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda ditutup 27,5 poin atau 0,19% ke level Rp14,445 per .

Sementara itu, berdasarkan data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.434 per dolar AS, menguat 12 poin atau 0,08% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.446 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga tidak berdaya melawan greenback, menyisakan rupee India, yen Jepang, dan dolar Taiwan di area hijau.

Mata uang Benua Kuning memang harus rela tertahan di area merah karena dolar AS memulai pekan dengan mantap, termasuk mengungguli euro dan yen, didukung kekuatan ekonomi AS dan peluncuran vaksin yang berjalan jauh lebih cepat daripada di Eropa, membuat menarik ke greenback. Mata uang Paman Sam masih menguat 0,01 poin atau 0,01% ke level 92,776 pada pukul 11.05 WIB.

“Dolar AS juga terbantu beberapa data ekonomi yang cukup bagus, peluncuran vaksin yang fantastis, kecepatan vaksinasi yang baik, dan saham (positif),” kata analis mata uang Westpac, Imre Speizer, dikutip dari Reuters. “Perekonomian domestik melakukan lebih baik dari yang diharapkan dan kemungkinan akan terjadi untuk beberapa bulan ke depan, dan itulah yang menyebabkan mata uang dolar Aussie, dolar Selandia Baru, dan berkembang relatif mundur pada bulan Maret.”

Presiden AS, Joe Biden, mengatakan bahwa pihaknya akan menggandakan target vaksinasi, setelah melampaui 100 juta suntikan 42 hari lebih cepat dari jadwal. Sebaliknya, inokulasi Eropa diganggu oleh masalah pasokan dan masalah keamanan. Minggu lalu, kepala Institut Robert Koch Jerman untuk penyakit menular juga memperingatkan gelombang ketiga bisa menjadi yang terburuk sejauh ini.

Saat ini, investor akan menantikan laporan US Bureau of Labor Statistics mengenai data ketenagakerjaan AS periode Maret 2021. Konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan ekonomi AS menciptakan 655.000 lapangan kerja non-pertanian sepanjang Maret, atau jauh lebih tinggi ketimbang Februari 2021 yang sebanyak 379.000.

Loading...