Dolar Melempem, Rupiah Gagal Naik di Akhir Senin

Rupiah melemahRupiah melemah - tribunnews.com

JAKARTA – gagal memanfaatkan pelemahan yang dialami untuk bergerak menguat pada Senin (4/3) sore, di tengah laporan yang mengatakan bahwa Washington dan Beijing mendekati kesepakatan . Menurut data Index pada pukul 15.55 WIB, mata uang Garuda melemah 10 poin atau 0,07% ke level Rp14.130 per dolar AS.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp14.149 per dolar AS, terdepresiasi 38 poin atau 0,26% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.111 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia variatif terhadap , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,19% dialami pes Filipina dan kenaikan tertinggi sebesar 0,27% menghampiri yuan offshore China.

Dari global, yuan China dan dolar Australia menguat, sedangkan dolar AS bergerak lebih rendah, di tengah laporan yang mengatakan bahwa Washington dan Beijing mendekati kesepakatan perdagangan setelah sengketa tarif selama setahun. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,098 poin atau 0,10% ke level 96,429 pada pukul 12.11 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, laporan Wall Street Journal pada hari Minggu (3/3) waktu setempat mengatakan bahwa AS dan China dapat mencapai kesepakatan resmi pada pertemuan puncak sekitar tanggal 27 Maret mendatang, yang memberikan kemajuan dalam pembicaraan antara kedua negara. Dolar Aussie naik sebanyak 0,57% menjadi 0,7118 terhadap greenback, sebelum menyerahkan sebagian keuntungannya setelah inventaris bisnis melunak dan penurunan iklan pekerjaan.

“Kita harus sedikit berhati-hati tentang berita bullish yang datang dari AS berkaitan dengan perdagangan karena pemerintahan Donald Trump selama ini terdengar telah positif, tetapi China cukup hati-hati,” tutur seorang valas di INTL FCStone Singapura, Wu Mingze. “Jika China mengatakan mendekati kesepakatan perdagangan, kita akan melihat mata uang Asia bereaksi lebih sensitif.”

Di sisi lain, Donald Trump kembali memberikan kritik terhadap Federal Reserve, dengan mengatakan bahwa kebijakan moneter yang ketat membuat dolar AS menguat sehingga merusak daya saing Negeri Paman Sam. Menurut Trump, mata uang yang lemah umumnya membuat ekspor suatu negara menjadi lebih kompetitif.

Loading...