Dolar Melemah Setelah Laporan Inflasi, Rupiah Lanjutkan Penguatan

Rupiah - beritagar.idRupiah - beritagar.id

Jakarta dibuka 34 poin atau 0,25 persen ke posisi Rp 13.595 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (15/2). Sebelumnya, Rabu (14/2) rupiah berakhir terapresiasi 0,16 persen atau 22 poin ke level Rp 13.629 per dolar AS usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.615 hingga Rp 13.662 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama dilaporkan turun 0,65 persen menjadi 89,124 di akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB lantaran para investor kini tengah mencermati Amerika Serikat yang baru dirilis.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan, Indeks Konsumen (IHK) naik 0,5 persen pada Januari 2018 berdasarkan basis yang disesuaikan secara musiman, melebihi prediksi 0,3 persen. Selama 12 bulan terakhir, indeks barang semua naik 2,1 persen. Tak termasuk komponen makanan dan energi yang bervolatilitas, konsumen inti meningkat 0,3 persen pada Januari, melebih konsensus pasar 0,2 persen. Dalam 12 bulan hingga Januari, IHK inti naik 1,8 persen.

Sedangkan Departemen Perdagangan juga melaporkan bahwa perkiraan pendahuluan penjualan ritel dan layanan makanan AS pada Januari 2018 mencapai angka 492,0 miliar dolar AS, menurun 0,3 persen dari bulan sebelumnya, lebih rendah dari perkiraan pasar dengan kenaikan 0,3 persen. “Ini adalah laporan yang benar-benar mengerikan, dengan penjualan turun hampir 1 persen dari perkiraan antara koreksi Januari dan revisi Desember,” jelas kepala ekonom FTN Financial, Chris Low, seperti dilansir Xinhua.

Dari dalam negeri, rupiah berhasil mempertahankan posisinya di zona hijau setelah sebelumnya mengalami pelemahan berturut-turut. Akan tetapi, Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong mengungkapkan jika rebound rupiah hanya disebabkan oleh faktor teknikal. Pasalnya rupiah sudah terkoreksi cukup dalam sejak awal bulan Februari 2018 ini.

Di sisi lain, Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual berpendapat jika penguatan rupiah seiring dengan penguatan berbagai mata uang emerging market dan Asia lainnya terhadap USD. “Sebenarnya penguatan rupiah terlambat, karena mata uang lainnya sudah menguat sejak dua hari lalu (Senin),” ungkap David, seperti dilansir Kontan.

Loading...