Dolar Melandai, Rupiah Tetap Melemah di Rabu Sore

Rupiah - www.liputan6.comRupiah - www.liputan6.com

masih belum bisa keluar dari level terendah dalam kurun waktu 20 tahun terakhir pada Rabu (3/10) sore, meski indeks AS sebenarnya terpantau turun seiring rebound yang dialami euro. Menurut catatan Index pukul 15.58 WIB, Garuda berakhir melemah 32 poin atau 0,22% menuju level Rp15.075 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan berada di posisi Rp15.088 per dolar AS, melorot 100 poin atau 0,66% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.988 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, bergerak variatif terhadap greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,31% dialami renminbi China dan pelemahan terdalam sebesar 0,57% menghampiri rupee India.

“Banyak yang memengaruhi terjadinya pelemahan rupiah,” tulis ekonom BPJS Ketenagakerjaan, Hasyirun Niam, dilansir Bisnis. “Dari internal misalnya, nilai impor yang lebih tinggi dari ekspor yang menyebabkan neraca perdagangan minus. Sementara, dari eksternal, dipicu kenaikan suku bunga , perang dagang AS-China, dan kenaikan imbal hasil Treasury AS.”

Dari pasar , indeks dolar AS sebenarnya bergerak melandai pada Rabu ini, setelah euro perlahan bangkit menyusul laporan yang menyatakan bahwa Italia berencana untuk mengurangi defisit anggaran mereka pada tahun-tahun mendatang. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,165 poin atau 0,17% ke level 95,342 pada pukul 11.04 WIB, sedangkan euro naik 0,31% menuju 1,1584 terhadap greenback.

Seperti diberitakan Reuters, mata uang tunggal Benua Biru menerima dukungan setelah surat kabar Italia, Corriere della sera, melaporkan bahwa Roma berencana untuk mengurangi defisit anggaran mereka secara bertahap menjadi 2% dari domestik bruto (PDB) pada tahun 2021 mendatang. Pemerintah Italia sebelumnya minggu lalu telah menetapkan target defisit 2,4% dari PDB untuk tiga tahun ke depan, yang sempat meresahkan pasar dan mendorong kritik dari pejabat Komisi Eropa.

“Euro bergerak lebih tinggi karena laporan terbaru tentang anggaran Italia tampaknya telah mendorong sedikit short covering menyusul penurunan baru-baru ini,” ujar presiden di FPG Securities di Tokyo, Koji Fukaya. “Pasar merasa lega di tengah tanda-tanda bahwa mungkin Italia bersedia untuk bermain sesuai aturan. Anggaran Italia yang surut dapat menjadi tema pasar ke depan, tetapi itu tidak berarti euro dapat memperoleh kembali langkahnya.”

Loading...