Dolar Melaju Kencang Usai Pidato Yellen, Rupiah Akhiri Pekan di Zona Merah

Meski cenderung hawkish, namun pidato , Janet Yellen, sudah cukup membuat dolar AS digdaya terhadap negara berkembang, termasuk . Menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda tak berdaya menahan gempuran dolar AS sehingga harus menutup perdagangan akhir pekan (18/11) ini dengan tergerus 55 poin atau 0,41% ke level Rp13.428 per dolar AS.

Pelemahan rupiah sudah terjadi sejak awal dagang dengan turun 20 poin atau 0,15% ke posisi Rp13.393 per dolar AS. Istirahat siang, spot kembali terdepresiasi 50 poin atau 0,37% ke Rp13.423 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.34 WIB, mata uang Garuda makin terbenam di zona merah setelah anjlok 62 poin atau 0,46% ke level Rp13.435 per dolar AS.

Kamis atau Jumat pagi WIB, Yellen mengatakan kepada Komite Gabungan Kongres bahwa kenaikan suku acuan cenderung “relatif segera”,  dan melihat tidak ada bukti kenaikan inflasi atau suku tahun depan. Usai penyataan ini, dolar AS pun ditutup melonjak 0,48 poin atau 0,48% ke 100,89 dan lanjut menguat 0,31% ke level 101,2 hingga Jumat siang tadi.

Komentar Yellen ini sejalan dengan data ekonomi AS yang menunjukkan pembangunan rumah mencapai puncaknya dalam sembilan tahun terakhir pada Oktober, sedangkan klaim pengangguran mingguan turun ke level terendah dalam 43 tahun. “Dolar AS mendapatkan dorongan dari ekspektasi terhadap The Fed dan data ekonomi,” ujar Analis di Western Union Business Solutions, Joe Manimbo.

Senada, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, juga menuturkan bahwa pelemahan rupiah berpeluang kembali di akhir pekan melihat indeks dolar AS yang menguat tajam dan yang telah memulai tren penurunan. “BI yang menahan suku bunga di 4,75% semakin waspada terhadap ketidakpastian meski memberikan komitmen kehadiran di pasar valas untuk menjaga stabilitas rupiah,” katanya.

Selain rupiah, sejumlah mata uang Asia juga terpantau melemah terhadap dolar AS. Hingga siang tadi, pelemahan tertajam terhadap the greenback dialami dolar Taiwan yang melorot 0,7%, diikuti peso Filipina sebesar 0,55%, dan ringgit Malaysia yang turun 0,42%.

Loading...