Dolar Masih Superior, Rupiah Kembali Berakhir Melemah

Rupiah - ekbis.sindonews.comRupiah - ekbis.sindonews.com

Indeks dolar AS masih terlalu digdaya bagi berkembang, termasuk rupiah, ketika menantikan keputusan Donald Trump mengenai perjanjian nuklir dengan Iran. Menurut paparan Index pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda menutup perdagangan Selasa (8/5) ini dengan pelemahan sebesar 51 poin atau 0,36% ke level Rp14.052 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah berakhir merosot 56 poin atau 0,40% di posisi Rp14.001 per dolar AS pada Senin (7/5) kemarin, level terendah sejak Desember 2015. Tren negatif mata uang NKRI berlanjut tadi pagi dengan dibuka melemah 3 poin atau 0,02% ke level Rp14.004 per dolar AS. Sepanjang hari ini, spot praktis ‘betah’ di zona merah, mulai awal hingga tutup .

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan berada di posisi Rp14.036 per dolar AS, terjun bebas 80 poin atau 0,57% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.956 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya versus greenback, dengan pelemahan terdalam menghampiri rupiah, disusul baht Thailand.

“Untuk mengerem pelemahan rupiah, diperlukan sejumlah langkah,” ujar peneliti Institute for Development of Economic and Finance, Bhima Yudhistira Adhinegara, seperti dikutip Bisnis. “Pertama, memperkuat kinerja domestik, lalu melakukan hedging atau lindung nilai untuk pengusaha yang memiliki utang luar negeri, dan menaikkan acuan Bank Indonesia sebesar 25 sampai 50 basis poin.”

Dari pasar global, indeks dolar AS masih terus ‘melayang’ mendekati level tertinggi dalam empat bulan pada hari Selasa, didukung kenaikan imbal hasil obligasi AS dan prospek pertumbuhan ekonomi Paman Sam. Mata uang greenback terpantau menguat 0,115 poin atau 0,12% ke level 92,864 pada pukul 11.21 WIB, setelah sempat menembus posisi 92,974 semalam, level tertinggi sejak 28 Desember.

Seperti dilansir Reuters, saat ini, fokus pasar tertuju pada keputusan Presiden AS, Donald Trump, tentang kelanjutan perjanjian nuklir internasional dengan Iran. Trump diperkirakan akan membuat kesepakatan tentang perjanjian nuklir pada sore hari waktu setempat. Penarikan AS dari kesepakatan diprediksi akan berdampak negatif pada aset risiko di pasar global.

“Penarikan AS dari kesepakatan (dengan Iran) mungkin bisa menjadi sentimen negatif bagi greenback,” ujar ahli strategi mata uang senior di Daiwa Securities di Tokyo, Yukio Ishizuki. “Tetapi, setidaknya, untuk jangka pendek, sulit untuk mengabaikan kekuatan dolar AS yang sangat perkasa, terutama terhadap mata uang negara berkembang.”

Loading...