Dolar Makin Terpuruk, Rupiah Berakhir Melonjak 214 Poin

Rupiah - sumutinvest.comRupiah - sumutinvest.com

JAKARTA – Rupiah mampu bergerak menguat sepanjang perdagangan Rabu (7/11) ini, menyusul indeks yang terus melandai sejak awal pekan karena sedang menantikan hasil pemilihan Kongres AS. Menurut paparan Index pada pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda berakhir menguat 214 poin atau 1,45% menuju level Rp14.590 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.764 per dolar AS, melonjak 127 poin atau 0,85% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp14.891 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia mengungguli , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,66% menghampiri rupiah, disusul won Korea Selatan yang menguat 0,39%.

Dari , indeks dolar AS terpantau bergerak lebih rendah terhadap sekeranjang mata uang utama, termasuk euro dan yen, karena investor masih menunggu hasil pemilu jangka menengah AS untuk memperoleh petunjuk agenda ekonomi dan politik Washington yang lebih luas. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,366 poin atau 0,38% ke level 95,951 pada pukul 11.40 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, mata uang AS sebelumnya telah mengungguli para pesaing utama sepanjang tahun ini, mendapatkan dukungan dari ekonomi yang kuat dan yang lebih tinggi. Namun, kali ini, fokus investor yang tertuju pada hasil pemilihan Kongres AS membuat greenback untuk sementara waktu bergerak melandai.

“Jika Partai Demokrat memenangkan kedua posisi (di DPR dan Senat), sentimen akan mengubah risiko, sehingga kita akan melihat dolar AS dan yen yang kuat,” papar ahli strategi mata uang senior di Daiwa Securities, Yukio Ishizuki. “Namun, jika itu tidak terjadi, dolar AS kemungkinan akan menguat terhadap yen, tetapi sedikit lebih lemah terhadap mata uang lainnya, setidaknya untuk sementara.”

Partai Demokrat sendiri diperkirakan untuk memenangkan kendali Dewan Perwakilan AS, sedangkan Partai Republik tampaknya akan mempertahankan mayoritas mereka di Senat. Kemenangan Partai Demokrat di satu atau kedua tempat kemungkinan dilihat sebagai penolakan Presiden Donald Trump dan kebijakan yang telah mendorong pertumbuhan perusahaan AS.

Loading...