Dolar Lunglai, Rupiah Justru Berakhir Melemah

Rupiah - bisnis.tempo.coRupiah - bisnis.tempo.co

JAKARTA – Rupiah gagal mempertahankan posisi di zona hijau pada Selasa (16/2) sore ketika minat pelaku cenderung tertuju pada aset berisiko, membuat harus bergerak lunglai. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup melemah 20 poin atau 0,14% ke level Rp13.930 per dolar AS.

Sementara itu, menurut data yang diterbitkan Bank Indonesia pukul 10.00 WIB, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp13.875 per dolar AS, menguat 0,51% dari transaksi sebelumnya di posisi Rp13.946 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang sanggup mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,28% dialami won Korea Selatan.

Menurut analisis CNBC Indonesia, harapan akan pemulihan merangsang minat pelaku pasar untuk berburu aset-aset berisiko. Program vaksinasi anti-virus corona terus berlanjut, melahirkan asa bahwa pandemi bisa segera diakhiri. Seiring dengan vaksinasi di berbagai negara, laju jumlah pasien positif Covid-19 relatif melandai.

Selain itu, pasar juga optimistis dengan perkembangan rencana stimulus fiskal di AS. AS, Joe Biden berencana menggelontorkan stimulus fiskal bernilai 1,9 triliun dolar AS. Biden sudah berkomunikasi dengan para pimpinan daerah untuk menyukseskan pelaksanaan stimulus. Pasalnya, anggaran pemerintah pusat memang tidak ada artinya bila tidak dieksekusi dengan baik di tingkat daerah.

Dari pasar global, indeks dolar AS tertekan pada hari Selasa, karena optimisme vaksin mendorong pound Inggris ke level tertinggi hampir tiga tahun, sedangkan kenaikan minyak dan ekspektasi yang tinggi untuk pemulihan global mendukung komoditas dan aset yang terpapar perdagangan. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,124 poin atau 0,14% ke level 90,356 pada pukul 14.34 WIB.

“Dolar AS cenderung berkinerja buruk ketika Anda melihat sentimen positif yang luas di pasar,” kata ahli strategi mata uang senior di National Australia Bank di Sydney, Rodrigo Catril, dikutip Reuters. “Ada juga tekanan inflasi, terutama yang datang dari harga (komoditas) energi, yang mendorong imbal hasil, menambah beban lain pada yen Jepang, tetapi menjaga imbal hasil nyata dari tetap stabil.”

Loading...