Dolar Loyo Jelang Testimoni Powell, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah Menguat - www.kabarin.co

mampu mempertahankan posisi di zona hijau mulai awal hingga tutup dagang ketika indeks dolar terpeleset jelang testimoni pertama Jerome Powell sebagai Gubernur . Menurut laporan Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda menyelesaikan transaksi Senin (26/2) ini dengan penguatan sebesar 8 poin atau 0,06% ke level Rp13.660 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup naik 17 poin atau 0,12% di posisi Rp13.668 per dolar AS pada perdagangan akhir pekan (23/2) kemarin. Mata uang NKRI kembali menguat 7 poin atau 0,05% ke level Rp13.661 per dolar AS saat membuka pasar pagi tadi. Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis berhasil mempertahankan posisi di zona hijau mulai awal hingga tutup dagang.

Sementara itu, siang tadi mematok kurs tengah di posisi Rp13.659 per dolar AS, mengalami apresiasi sebesar 11 poin atau 0,08% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.670 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang perkasa versus , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,50% menghampiri won Korea Selatan.

Dari pasar , greenback tergelincir pada hari Senin, kehilangan sebagian momentum saat imbal hasil AS merosot, menjelang testimoni pertama Gubernur The Fed yang baru, Jerome Powell, di depan Kongres AS. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,15% menuju level 89,752 pada pukul 11.52 WIB, setelah sepanjang minggu lalu mampu menguat hampir 0,9%.

Seperti dikabarkan Reuters, Powell direncanakan akan memberikan testimoni mengenai kebijakan moneter yang akan diambil AS pada Selasa (27/2) waktu setempat di hadapan Kongres AS sebelum House of Representatives’ Financial Services Committee. Panitia sebelumnya telah menjadwalkan pidato Powell pada Rabu (28/2), namun diganti tanpa alasan yang belum jelas.

“Tidak ada insentif bagi Powell untuk tidak menandai adanya pergeseran dalam narasi The Fed,” ujar kepala perdagangan di Asia Pasifik untuk OANDA di Singapura, Stephen Innes, dalam sebuah catatan. “Tidak banyak yang berharap bahwa Powell akan kurang bergantung pada data ekonomi daripada Yellen, jadi juri harus tetap berada di tingkat yang lebih cepat mengenai normalisasi suku bunga.”

Loading...