Dolar Loyo di Pasar Asia, Rupiah Ditutup Menguat 10 Poin

Fokus yang beralih ke calon Gubernur yang baru membuat indeks dolar AS tidak berdaya di Asia, dan mampu dimanfaatkan untuk melenggang mulus di zona hijau. Menurut Index pukul 15.59 WIB, NKRI menutup Selasa (24/10) ini dengan penguatan sebesar 10 poin atau 0,08% ke level Rp13.533 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah ditutup melemah 24 poin atau 0,18% di posisi Rp13.543 per dolar AS pada perdagangan awal pekan (23/10) kemarin. Kemudian, pagi tadi mata uang Garuda mampu rebound dengan dibuka menguat 12 poin atau 0,09% menuju level Rp13.531 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot bergerak di kisaran Rp13.522 hingga Rp13.538 per dolar AS.

Dari pasar , pergerakan indeks dolar AS terpantau melemah pada perdagangan hari ini, ketika pasar memusatkan perhatian mereka pada keputusan Presiden Donald Trump terkait Gubernur yang baru. Pada pukul 08.23 WIB, mata uang Paman Sam terdepresiasi 0,178 poin atau 0,19% ke level 93,758, setelah kemarin berakhir positif di posisi 93,936.

Reuters memberitakan, pada Senin kemarin, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa dirinya telah ‘sangat, sangat dekat’ untuk menentukan siapa yang harus memimpin Bank Sentral AS usai melakukan interview terhadap lima kandidat. Penunjukan kandidat yang memiliki pandangan kebijakan moneter yang lebih hawkish diprediksi akan kembali mengangkat pergerakan .

Di sisi lain, kemenangan koalisi Perdana Menteri Shinzo Abe dalam pemilu di Jepang meyakinkan investor bahwa reformasi ekonomi bernama ‘Abenomics’ akan berlanjut, termasuk kebijakan moneter bersifat longgar yang diterapkan Bank of Japan. Sentimen minat terhadap aset berisiko pun sejenak terhenti untuk saat ini. “Hasil pemilu Jepang tidak terlalu mengejutkan dan sudah diperkirakan,” kata pakar strategi mata uang senior di Brown Brothers Harriman, Masashi Murata.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi mematok kurs tengah berada di level Rp13.529 per dolar AS, naik tipis 6 poin atau 0,04% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.535 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang di Asia perkasa versus greenback, dengan penguatan tertinggi sebesar 0,26% dialami won Korea Selatan, disusul renminbi China yang terdongkrak 0,18%.

Loading...