Dolar Lemas, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah menguatRupiah menguat pada perdagangan Senin (19/4) sore - era.id

JAKARTA – Setelah bergerak fluktuatif, akhirnya mampu menutup perdagangan Senin (19/4) sore di teritori hijau ketika greenback masih berkutat di dekat posisi terendah satu bulan saat imbal hasil terperosok. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 14.54 WIB, Garuda ditutup 17,5 poin atau 0,12% ke level Rp14.547,5 per .

Sebelumnya, pengamat keuangan, Ariston Tjendra, mengatakan bahwa membaiknya data-data dari negara besar seperti AS dan China pada pekan lalu dan data ekspor Jepang yang menunjukkan kenaikan pagi tadi, membantu memberikan sentimen positif ke . Hal tersebut mungkin dapat membantu penguatan rupiah pada hari ini.

Sebaliknya, CNBC Indonesia memperkirakan rupiah akan mengalami depresiasi pada perdagangan hari ini. Pasalnya, tanda-tanda pelemahan mata uang Garuda sudah tampak pada pasar Non-Deliverable Market (NDF). Pasar NDF dikatakan seringkali memengaruhi psikologis pembentukan di pasar spot, dan karena itu kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot.

Sementara itu, dari pasar , AS berjuang keluar dari level terendah satu bulan terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Senin, ketika imbal hasil Treasury melayang tidak jauh dari posisi terendah dalam lima minggu, setelah Federal Reserve menegaskan kembali pandangannya bahwa setiap lonjakan inflasi kemungkinan bersifat sementara. Mata uang Paman Sam melemah 0,277 poin atau 0,30% ke level 91,279 pada pukul 14.52 WIB.

“Pasar pendapatan tetap akan mendominasi dunia pada minggu ini, dengan risiko saat ini condong ke penurunan imbal hasil lebih lanjut, yang akan menekan dolar AS,” ujar kepala penelitian di Pepperstone Markets Ltd. yang berbasis di Melbourne, Chris Weston, dilansir dari Reuters. “Kenaikan Wall Street di tengah volatilitas yang rendah mungkin bisa menjaga greenback agar tetap terkendali dan menarik penjual dolar AS lebih lanjut.”

Imbal hasil Treasury tenor 10-tahun merosot ke level 1,5280% pada minggu lalu, setelah sempat mencapai tertinggi lebih dari satu tahun di 1,7760% pada akhir bulan lalu, mengurangi daya tarik Amerika Serikat sebagai . Ini setelah The Fed mengatakan di CNBC bahwa ekonomi AS ‘siap bangkit’ berkat vaksinasi, tetapi kenaikan inflasi kemungkinan hanya sementara.

Loading...