Dolar ‘Ketiban Rezeki’, Rupiah Berbalik Melemah di Penutupan

Laju pound sterling yang melempem menjadi ‘berkah’ tersendiri bagi AS untuk bergerak menguat sekaligus ‘mengirim’ rupiah ke zona merah. Menurut catatan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, Garuda harus menutup Rabu (19/7) ini dengan pelemahan sebesar 12 poin atau 0,09% ke level Rp13.321 per dolar AS.

Rupiah sebenarnya mampu mengawali dengan positif setelah naik 11 poin atau 0,08% di posisi Rp13.298 per dolar AS. Namun, istirahat siang, mata uang Garuda berbalik melemah 7 poin atau 0,05% ke level Rp13.316 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.45 WIB, spot masih berkutat di zona merah setelah 11 poin atau 0,08% ke posisi Rp13.320 per dolar AS.

Dari , indeks dolar AS seperti ‘ketiban rezeki’ setelah inflasi terbaru Inggris dilaporkan melemah, yang berimbas negatif pada laju pound sterling. Setelah dibuka dengan kenaikan tipis sebesar 0,087 poin atau 0,09% di level 94,691, mata uang Paman Sam kembali mengalami apresiasi sebesar 0,135 poin atau 0,14% ke posisi 94,739 pada pukul 09.50 WIB.

Sebelumnya, laju sempat melempem imbas runtuhnya dorongan Partai Republik untuk merombak UU Kesehatan AS, sekaligus memberikan pukulan bagi kemampuan Donald Trump untuk meloloskan pemotongan pajak dan belanja infrastruktur . Di samping itu, data inflasi AS terbaru yang dilaporkan kurang baik juga menjadi halangan bagi greenback untuk bergerak menguat.

Namun, ‘kabar baik’ datang setelah Selasa (18/7) kemarin waktu setempat, inflasi Inggris dilaporkan lebih kecil dari prediksi. Inflasi Inggris bulan Juni turun ke level 2,6% sehingga mengurangi tekanan penaikan suku bunga oleh Bank of England. terbaru ini pun sontak memukul mundur pound sterling yang harus melemah 0,0009 poin atau 0,07% ke level 1,3031 pada pukul 09.59 WIB.

Sementara itu, dari dalam negeri, pasar domestik saat ini sedang menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, yang diperkirakan masih tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuan di level 4,75%. Pasalnya, Bank Indonesia masih terus mempelajari risiko yang dibawa oleh kebijakan moneter di Negeri Paman Sam.

“Fokus pasar domestik akan tertuju pada Rapat BI yang dilaksanakan hari ini,” ujar Research Analyst FXTM, Lukman Otunuga. “Meski fundamental makro ekonomi Indonesia mengesankan di tengah tahun pertama 2017, BI mungkin tetap mengambil posisi pasif di jangka pendek sebelum mengambil langkah pada akhir tahun.”

Loading...