Dolar Keok, Nilai Tukar Rupiah Dibuka Menguat ke Rp 14.350/USD

Rupiah - www.cnbcindonesia.comRupiah - www.cnbcindonesia.com

Jakarta – Kurs dibuka menguat sebesar 47 poin atau 0,3 persen ke level Rp 14.350 per AS di awal perdagangan hari ini, Rabu (4/7). Kemarin, Selasa (3/7), berakhir terdepresiasi sebesar 7 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp 14.397 per .

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur gerak the terhadap sejumlah utama terpantau melemah tipis. Di akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,25 persen menjadi 94,636 lantaran para tengah menantikan risalah terbaru dari pertemuan terakhir yang akan dilaporkan pada pekan ini.

akan menerbitkan risalah untuk pertemuan Juni 2018 pada Kamis (5/7). Para pelaku pasar akan berupaya untuk mencermati apakah berada di jalur untuk menaikkan suku bunga acuan sebanyak 2 kali lagi pada tahun 2018 ini.

Dari sektor ekonomi, Departemen Perdagangan Amerika Serikat melaporkan pada Selasa (3/7) bahwa pesanan baru untuk barang-barang manufaktur pada Mei 2018 mengalami kenaikan 1,8 miliar dolar AS atau 0,4 persen menjadi 498,2 miliar dolar AS di tengah permintaan yang kuat terhadap mesin. Perolehan tersebut menyusul penurunan sebesar 0,4 persen pada April 2018, melampaui prediksi pasar.

Pelemahan rupiah pada perdagangan kemarin sendiri disebut-sebut sebagai level penutupan terendah rupiah sejak Oktober 2015. Meski demikian, ekonom Bank Permata Josua Pardede berpendapat bahwa rupiah hanya mengalami pelemahan tipis. Pasalnya bank sentral China menyatakan bakal menjaga nilai tukar mata uangnya, yuan, supaya tidak anjlok terlalu dalam.

“Ada komentar dari bank sentral China yang berniat melakukan intervensi jika yuan melemah terlalu jauh,” ujar Josua, seperti dilansir Kontan. Dengan adanya komentar tersebut menurut Josua membantu sebagian mata uang di Asia, termasuk rupiah tidak mengalami penurunan terlalu dalam.

Sedangkan analis Valbury Asia Futures Lukman Leong menilai kenaikan suku bunga acuan Bank (BI) belum mampu menopang pergerakan rupiah di pasar spot. Sebab efek kenaikan suku bunga memang membutuhkan waktu. Menurut Lukman diperlukan cara lain untuk mengangkat posisi rupiah. Namun Lukman tetap mengapresiasi kebijakan BI untuk menjaga stabilitas rupiah.

Loading...