Dolar Goyang, Rupiah Berakhir Menguat

Kurs Rupiah - www.viva.co.idKurs Rupiah - www.viva.co.id

JAKARTA – Rupiah ternyata mampu bangkit ke zona hijau pada perdagangan Jumat (26/3) sore, memanfaatkan pergerakan yang sedikit goyang meskipun data ekonomi Negeri Paman Sam relatif membaik. Menurut laporan Index pada pukul 14.56 WIB, mata uang Garuda berakhir menguat 9 poin atau 0,06% ke level Rp14.417,5 per dolar AS.

Sementara itu, data yang dirilis pukul 10.00 WIB menempatkan referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.446 per dolar AS, menguat 18 poin atau 0,12% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.464 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang tidak sanggup mengalahkan greenback, termasuk dolar Taiwan, ringgit Malaysia, dan yen Jepang.

“Jadi, sebenarnya itu (pelemahan rupiah) persepsi general. Indonesia dan emerging market lain dilihat sebagai risk, lebih berisiko dibandingkan maju,” ulas ekonom Bank Permata, Josua Pardede, dilansir dari CNBC Indonesia. “Saya melihat kepemilikan asing di dan kita cukup dominan. Kalau dinamika khususnya investasi asing, lumayan terpengaruh.”

Dari global, dolar AS mencoba bertahan di dekat level tertinggi multi-bulan terhadap sebagian besar mata uang utama pada hari Jumat, di tengah membaiknya data ekonomi AS, peluncuran vaksin virus corona, dan kenaikan imbal hasil Treasury. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,102 poin atau 0,11% ke level 92,746 pada pukul 14.55 WIB.

Seperti dilansir dari Reuters, klaim pengangguran AS jatuh ke level terendah satu tahun pada pekan lalu dan AS, Joe Biden, mengatakan dia akan menggandakan rencana peluncuran vaksinasi setelah mencapai target 100 juta suntikan dalam 42 hari lebih cepat dari jadwal. Investor saat ini menantikan data pribadi AS yang akan dirilis Jumat waktu setempat untuk petunjuk lebih lanjut tentang kekuatan ekonomi negara tersebut.

Di belahan Eropa, euro menjadi fokus menjelang data sentimen bisnis Jerman yang akan dirilis hari ini waktu setempat, tetapi prospek mata uang telah memburuk karena lockdown virus corona. Survei Ifo Jerman diperkirakan akan menunjukkan peningkatan moral bisnis, tetapi ini tidak mungkin menghentikan penurunan euro, karena kekhawatiran tentang lambatnya peluncuran vaksinasi di Uni Eropa.

Loading...