Dolar Ditinggalkan Investor, Rupiah Positif di Akhir Pekan

Rupiah - market.bisnis.comRupiah - market.bisnis.com

emerging market yang kembali diburu , seiring dengan meredanya kekhawatiran perang , membuat mampu melenggang mulus di zona hijau hingga Jumat (21/9) sore. Menurut Index pukul 15.58 WIB, Garuda menguat 32 poin atau 0,22% ke level Rp14.817 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.824 per dolar AS, naik 15 poin atau 0,10% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.839 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang mengungguli , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,57% menghampiri rupee India, disusul won Korea Selatan yang menguat 0,37%.

Dari global, indeks dolar AS relatif tertekan pada perdagangan hari Jumat, di tengah meredanya kekhawatiran perang dagang global yang sekaligus mengatrol daya tarik mata uang emerging market. Mata uang Paman Sam terpantau melemah tipis 0,006 poin menuju level 93,906 pada pukul 11.16 WIB, setelah kemarin sudah berakhir turun 0,66% di posisi 93,912.

“Tampaknya posisi yang condong ke arah penghindaran aset berisiko sedang berbalik arah,” tutur senior strategist di SMBC Nikko Securities di Tokyo, Makoto Noji, dilansir Reuters. “Pemicu kondisi ini adalah komentar Perdana Menteri China, Li Keqiang, mengenai yuan yang menyebabkan harapan yang lebih moderat terhadap rentetan episode perdagangan AS-China.”

Sebelumnya, indeks dolar AS terus bergerak menguat dalam beberapa minggu terakhir ketika tensi perdagangan global memanas, yang memicu investor mengorbankan mata uang emerging market. Jajak pendapat yang dilakukan Reuters juga menunjukkan suara bulat bahwa tensi perdagangan antara dua ekonomi terbesar di dunia bisa membawa dampak buruk terhadap pertumbuhan global.

Namun, daya tarik dolar AS dan yen Jepang, yang bersifat aset safe haven, mulai berkurang ketika investor berpandangan bahwa konflik perdagangan antara China dan AS dalam beberapa waktu terakhir tidak seburuk yang dikhawatirkan sebelumnya. Kenaikan mata uang Asia juga disokong lonjakan lira Turki dan rand Afrika Selatan, yang pada awal bulan sempat tertekan gesekan perdagangan dan faktor domestik.

Loading...