Dolar Banjir Dukungan, Rupiah Berakhir Melemah

Rupiah - flickr: ardiansyah michwanRupiah - flickr: ardiansyah michwan

JAKARTA – Rupiah harus puas bertengger di zona merah pada Kamis (4/2) sore ketika menerima dukungan yang cukup luas karena pesimisme terhadap prospek AS perlahan surut. Menurut Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup melemah 10 poin atau 0,07% ke level Rp14.015 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank Indonesia pukul 10.00 WIB menempatkan acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.036 per dolar AS, terkoreksi 19 poin atau 0,13% dari sebelumnya di level Rp14.017 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia bergerak terhadap greenback, dengan kenaikan tertinggi dialami yuan China dan pelemahan terdalam menghampiri rupiah.

Dari pasar global, indeks dolar AS diperdagangkan mendekati level terkuat dalam lebih dari dua bulan terhadap euro dan yen serta naik terhadap sejumlah mata uang pada hari Kamis, karena pesimisme tentang prospek ekonomi AS surut sebelum rilis data penting di pasar pekerjaan. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,177 poin atau 0,19% ke level 91,348 pada pukul 14.54 WIB.

“Pemulihan dolar AS dipicu oleh rebound dalam imbal hasil dan peningkatan ekspektasi inflasi,” kata ahli strategi valuta asing senior di IG Securities, Junichi Ishikawa, seperti dikutip dari Reuters. “Ini mendukung dolar AS, yang sekarang memiliki lebih banyak ruang untuk menguat terhadap euro, karena zona Eropa sepertinya tertinggal di belakang pertumbuhan ekonomi AS.”

Sentimen untuk greenback telah membaik baru-baru ini karena kemajuan dalam vaksinasi serta langkah AS, Joe Biden, untuk memberikan lebih banyak stimulus fiskal. Namun, dolar AS masih harus menghadapi ujian lain pada hari Jumat (5/2) dengan rilis data nonfarm payrolls, yang akan membantu mengonfirmasi apakah ekonomi terbesar dunia telah mengabaikan penurunan pertumbuhan menjelang akhir tahun lalu.

Data hari akhir pekan diperkirakan menunjukkan ekonomi AS menambahkan 50.000 pekerjaan pada Januari 2021, yang akan menjadi pemulihan ringan dari kehilangan 140.000 pekerjaan di bulan sebelumnya karena lonjakan infeksi virus corona menahan aktivitas ekonomi. Sejak awal tahun, ekspektasi untuk stimulus fiskal yang besar di bawah pemerintahan Biden telah mendukung sentimen.

Loading...