Dolar Berusaha Bangkit, Rupiah Perkasa di Akhir Pekan

Rupiah - infonawacita.comRupiah - infonawacita.com

JAKARTA – Rupiah melaju nyaman di area positif hingga Jumat (24/5) sore ketika indeks dolar AS masih berusaha mengembalikan kekuatan usai melemah akibat kekhawatiran perang . Menurut paparan Index pada pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda menguat 88 poin atau 0,61% ke level Rp14.392 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia mematok kurs tengah berada di posisi Rp14.451 per dolar AS, melonjak 62 poin atau 0,43% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.513 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang juga menghijau versus greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,35% menghampiri rupee India.

Dari pasar , indeks dolar AS berusaha bangkit pada perdagangan akhir pekan, setelah turun dari posisi tertinggi dua tahun akibat imbal hasil AS yang lebih rendah karena khawatir sengketa perdagangan AS- akan merugikan ekonomi negara adikuasa itu lebih dari yang diperkirakan sebelumnya. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,006 poin atau 0,01% ke level 97,862 pada pukul 12.14 WIB.

Diberitakan Reuters, imbal hasil Treasury AS berakhir di posisi 2,327%. Pada Kamis (23/5) kemarin, itu jatuh ke level terendah sejak Oktober 2017 setelah pembacaan awal untuk aktivitas AS bulan Mei menunjukkan laju pertumbuhan paling lemah dalam hampir satu dekade, menunjukkan perlambatan tajam dalam pertumbuhan ekonomi yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, hanya ada ekspektasi 38,4% pada hari Kamis bahwa suku bunga AS akan berada pada level saat ini di bulan Oktober mendatang, dibandingkan dengan 58,3% sebulan lalu, menurut alat FedWatch CME Group. Sebelumnya, risalah menyebutkan bahwa bank sentral tersebut masih bisa bertahan dalam kebijakan seperti sekarang ini.

“Pasar menilai bahwa penurunan suku bunga imbas dari ketegangan perdagangan dianggap lebih besar dari yang dibayangkan, meskipun sama sekali tidak membicarakan hal itu,” papar ahli strategi mata uang senior di Daiwa Securities, Yukio Ishizuki. “Pemerintahan Donald Trump diharapkan memberi tekanan yang cukup besar pada mulai sekarang. Investor sedang memikirkan skenario penurunan suku bunga.”

Loading...