Dolar Bergairah Jelang Rilis Data Ekonomi AS, Rupiah Berakhir Melemah 2 Poin

AS bergairah jelang rilis ekonomi terbaru sehingga membuat tak mampu lepas dari tekanan sepanjang akhir pekan (7/10) ini. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda harus menyudahi hari ini dengan pelemahan tipis 2 poin atau 0,02% ke posisi Rp12.989 per dolar AS.

Pelemahan rupiah sudah terjadi sejak awal dagang dengan 9 poin atau 0,07% ke level Rp12.996 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda kembali melempem dengan melemah 13 poin menyentuh posisi Rp13.000 per dolar AS. Jelang tutup dagang atau pukul 15.29 WIB, spot masih tertekan dengan turun 10 poin atau 0,08% ke level Rp12.997 per dolar AS.

Sebelumnya, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, menyebutkan bahwa mata uang Garuda memang berpeluang melemah pada perdagangan akhir pekan ini. Pasalnya, Bank Indonesia menyatakan bahwa rupiah yang terlalu kuat terhadap kurs lain memiliki dampak yang tidak baik. “Ini mengakibatkan ruang penguatan mata uang Garuda menjadi lebih terbatas,” kata Rangga.

Di samping itu, pelemahan rupiah juga dipicu indeks dolar AS yang kembali bergairah jelang rilis data AS yang bakal diumumkan nanti malam. Hingga siang tadi, the greenback yang mengukur pergerakan mata uang dunia menguat 0,26% ke level 97,02. Seperti diketahui, pasar saat ini tengah menunggu rilis data AS yang akan menjadi petunjuk kebijakan kenaikan Bank Sentral AS (Federal Reserve).

The Fed berencana menaikkan suku bunga pada tahun ini. Pelaku pasar pun menduga bahwa kenaikan itu bakal dilakukan pada pertemuan , mengingat di bulan ada agenda pemilu presiden AS. “Dolar AS lebih mendapatkan manfaat dari turunnya pesimisme dibandingkan optimisme langsung pada saat ini,” ujar Analis Senior dan Makro di Canadian Imperial Bank of Commerce, Bipan Rai.

“Tenaga kerja diperkirakan melebihi 200.000, yang akan menjadi konstruktif untuk dolar AS,” sambungnya. “Selain itu, data tenaga kerja AS yang kuat juga akan meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga AS.”

Sebelumnya, pada Rabu (5/10) kemarin, Ketua The Fed wilayah Chicago, Charles Evans, mengutarakan bahwa tingkat kenaikan suku bunga pada akhir tahun mungkin terjadi jika data terus membaik. Probabilitas kenaikan suku bunga acuan pada Desember mencapai hampir 64%, sedangkan kemungkinan kenaikan pada November mencapai 24%.

Loading...