Dolar Berangsur Pulih, Rupiah Anjlok di Akhir Rabu

Rupiah - www.detikepri.comRupiah - www.detikepri.com

tidak punya tenaga untuk bergerak ke teritori hijau pada perdagangan Rabu (26/6) sore, seiring dengan AS yang mulai pulih karena investor menimbang kembali harapan untuk pemotongan The Fed. Menurut catatan Index pada pukul 15.02 WIB, mata Garuda melemah 53 poin atau 0,37% ke level Rp14.178 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.174 pr dolar AS, terdepresiasi 36 poin atau 0,25% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.138 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia juga tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,35% menghampiri peso Filipina.

Dari pasar global, indeks dolar AS bangkit dari level terendah tiga bulan pada hari Rabu, setelah investor menimbang kembali harapan untuk pemotongan suku bunga , namun kemungkinan pelonggaran moneter tetap membatasi gerak greenback. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,140 poin atau 0,15% menuju level 96,280 pada pukul 12.48 WIB.

Diberitakan Reuters, Gubernur The Fed, Jerome Powell, pada Selasa (25/6) menekankan independensi bank sentral dari Presiden AS, Donald Trump, yang mendorong penurunan suku bunga secara agresif. Meski komentar Powell tersebut menurunkan setengah poin persentase ekspektasi pemotongan suku bunga pada pertemuan bulan Juli, investor masih mengharapkan setidaknya penurunan seperempat poin persentase.

Saat ini, fokus investor bergeser ke pertemuan antara Trump dan Presiden China, Xi Jinping, di sela-sela pada pertemuan Kelompok G20 yang berlangsung di Osaka, Jepang, pada akhir pekan. Tetapi, harapan untuk terobosan yang akan mengakhiri perselisihan antara dua negara ekonomi terbesar di dunia itu masih relatif rendah.

“Powell khawatir tentang mengekang ekspektasi berlebih, tetapi imbal hasil Treasury jelas menuju lebih rendah dan data ekonomi AS tidak terlihat bagus. Pemotongan suku bunga di bulan Juli adalah kesepakatan yang dilakukan,” ujar ahli strategi valuta asing senior di IG Securities, Junichi Ishikawa. “Dolar AS menjadi berat untuk naik, terutama terhadap yen.”

Loading...