Dolar Bangkit, Rupiah Terus Melaju di Akhir Dagang

Rupiah - market.bisnis.comRupiah - market.bisnis.com

mampu mempertahankan posisi di area hijau pada Selasa (16/10 sore meski indeks AS berhasil bangkit setelah sempat terpuruk akibat data penjualan ritel yang lesu. Menurut laporan Index pada pukul 15.52 WIB, Garuda terpantau menguat 20 poin atau 0,13% menuju level Rp15.200 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp15.206 per dolar AS, menguat 40 poin atau 0,26% dari perdagangan sebelumnya di level Rp15.246 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia bergerak variatif terhadap , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,54% dialami won Korea Selatan dan pelemahan terdalam sebesar 0,18% menghampiri yen Jepang.

Dari pasar , indeks dolar AS berhasil bangkit pada hari Selasa, setelah sebelumnya sempat tertekan oleh data penjualan ritel yang dilaporkan lesu. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,086 poin atau 0,09% menuju level 95,145 pada pukul 11.38 WIB, rebound usai mengalami pelemahan sebesar 0,162 poin atau 0,17% di sesi kemarin.

Seperti diberitakan CNBC, penjualan ritel di AS pada bulan September 2018 hanya mengalami kenaikan tipis sebesar 0,1% secara bulanan, tidak berubah dari capaian bulan sebelumnya. Pertumbuhan penjualan ritel tersebut masih jauh di bawah konsensus Reuters yang memperkirakan kenaikan 0,6% secara bulanan, bahkan menjadi yang terendah dalam tujuh bulan terakhir.

Sentimen negatif bagi greenback juga datang dari imbal hasil AS yang menurun dari level tertinggi dalam tujuh tahun yang berhasil dibukukan pada pekan lalu. Imbal hasil AS tenor 10 tahun siang tadi terpantau berkonsolidasi di level 3,16%, setelah sebelumnya sempat menyentuh 3,26% pada tanggal 9 Oktober kemarin.

“Bahkan ketika ekuitas AS runtuh dan ada suasana menghindari aset berisiko di pasar global, dolar AS tidak diperdagangkan kuat seperti yang diharapkan,” tutur kepala strategi mata uang di National Australia , Ray Attrill. “Koreksi ekuitas tidak dilakukan, dolar AS berperilaku asimetris, berita baik tidak begitu bagus dan berita buruk jauh lebih buruk dalam hal aksi harga untuk greenback.”

Loading...