Dolar Bangkit, Rupiah Berakhir Stagnan

Rupiah ditutup stagnan pada perdagangan Senin sore (7/12) - tribunnews.com

JAKARTA – Rupiah harus ditutup stagnan pada perdagangan Senin (7/12) sore, ketika greenback terpantau bangkit di tengah optimisme kehadiran vaksin . Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda berakhir di level Rp14.105 per , sama seperti posisi sebelumnya.

Sementara itu, yang dirilis Indonesia pagi tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.135 per dolar AS, menguat 47 poin atau 0,33% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.182 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,22% dialami ringgit Malaysia.

Mata uang Garuda sebenarnya tertekan sepanjang perdagangan ketika vaksin virus corona buatan Sinovac baru saja mendarat di Tanah Air. Pemerintah Indonesia mendatangkan 1,2 juta dosis vaksin yang sebelumnya sempat diuji secara klinis pada Agustus 2020 tersebut. Menurut rencana, akan ada 1,8 juta dosis lagi yang kemungkinan didatangkan pada awal Januari 2021.

Kabar bahwa vaksin -19 telah tiba, dikutip dari CNBC Indonesia, membuat para investor sedikit berani masuk ke . Pada pukul 09.38 WIB, Indeks Saham Gabungan (IHSG) melonjak 1,28%, dengan investor asing membukukan beli bersih sebesar Rp155,28 miliar. Meski demikian, secara umum, mereka belum sepenuhnya bermain ofensif lantaran jumlah kasus Covid-19 yang masih terus meningkat.

Dari pasar , dolar AS berusaha bangkit pada hari Senin, ketika data pekerjaan AS (nonfarm payrolls) yang lemah hanya memperkuat ekspektasi dari paket ekonomi baru, sedangkan poundsterling Inggris mengamati pembicaraan perdagangan terakhir antara Inggris dan Uni Eropa. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,141 poin atau 0,16% ke level 90,42 pada pukul 14.59 WIB.

Data pekerjaan AS terbaru menunjukkan gaji non-pertanian meningkat 245.000 sepanjang November 2020, kenaikan terkecil sejak Mei, sebagai tanda bahwa pemulihan pekerjaan kehilangan momentum karena gelombang ketiga infeksi virus korona. Para pedagang menilai data tersebut dapat memberi tekanan pada Washington untuk meloloskan putaran baru stimulus guna membantu ekonomi yang dilanda virus corona, membatasi gerak dolar AS terhadap mata uang berisiko.

“Ada reaksi terbatas (data pekerjaan yang lemah), dengan pasar lebih fokus pada prospek stimulus fiskal,” kata ahli strategi mata uang senior di Barclays Capital, Shinichiro Kadota, dilansir Reuters. “Sementara, dari Eropa, meskipun sulit untuk memprediksi bagaimana negosiasi (Inggris-Uni Eropa) akan berjalan, saya menduga poundsterling akan didukung dengan baik, ada gangguan total dalam pembicaraan.”

Loading...