Dolar Bangkit, Rupiah Berbalik Drop di Kamis Sore

Rupiah - manado.tribunnews.comRupiah - manado.tribunnews.com

JAKARTA – harus berbalik melemah pada Kamis (14/3) sore, setelah indeks dolar AS bangkit dari level terendah sembilan hari menyusul penolakan kembali proposal oleh parlemen Inggris. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 15.57 WIB, Garuda melemah 13 poin atau 0,10% ke level Rp14.278 per dolar AS.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan berada di posisi Rp14.253 per dolar AS, menguat 16 poin atau 0,11% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.269 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,32% dialami yen Jepang.

Dari , indeks dolar AS berhasil bergerak menguat dari level terendah sembilan hari pada hari Kamis, sebagian besar terbantu fluktuasi pound sterling setelah parlemen Inggris kembali menolak proposal Brexit tanpa kesepakatan. Mata uang Paman Sam terpantau naik 0,100 poin atau 0,10% menuju posisi 96,650 pada pukul 12.40 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, greenback berhasil bangkit dari pelemahan semalam, menyusul lonjakan pound sterling lebih dari 2% setelah parlemen Inggris menolak keluarnya Inggris dari Uni Eropa tanpa kesepakatan. Pound sterling terpantau melemah 0,65% ke level 1,3254 terhadap dolar AS, setelah semalam naik ke 1,3380 terhadap greenback atau terkuat sejak Juni 2018.

“Pound sterling sedikit mengalami pelemahan setelah naik begitu tajam di sesi sebelumnya,” tutur ahli strategi senior di Barclays di Tokyo, Shin Kadota. “Pasar ingin melihat bagaimana pemungutan suara untuk menunda Brexit keluar dan mendapatkan ide tentang berapa lama penundaan akan terjadi, dan penjual telah muncul di tengah-tengah jeda ini.”

Anggota parlemen Inggris diperkirakan akan memberikan suara lagi pada hari Kamis waktu setempat untuk memutuskan penundaan Brexit yang seharusnya dijadwalkan 29 Maret mendatang. Penundaan tersebut dinilai investor meningkatkan kesempatan PM Theresa May untuk mendapatkan kesepakatan dengan Uni Eropa atau bahkan pembatalan Brexit yang bisa membawa Inggris dan Uni Eropa melaksanakan referendum kedua.

Loading...