Dolar Bangkit Selepas Pidato Fed, Rupiah Berakhir Melemah 0,21%

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

Rupiah tidak mampu keluar dari zona merah pada Rabu (23/6) sore ketika greenback mencoba bangkit meskipun menegaskan kembali bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat masih jauh. Menurut Index pada pukul 14.58 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 30 poin atau 0,21% ke level Rp14.432,5 per dolar AS.

Sementara itu, mayoritas mata uang Asia juga ikutan tidak berdaya melawan greenback. Won Korea Selatan menjadi yang terpuruk setelah terdepresiasi 0,43%, diikuti peso Filipina yang anjlok 0,23%, baht Thailand yang terkoreksi 0,18%, dan ringgit Malaysia yang minus 0,15. Sebaliknya, yuan China dan dolar Hong Kong mampu menguat tipis, masing-masing 0,05% dan 0,02%.

“Pelemahan rupiah didorong pernyataan Federal Reserve yang memperkirakan pemulihan ekonomi Negeri Paman Sam tetap kuat, sehingga membuat dolar AS bergerak lebih tinggi,” ucap analis pasar uang, Ariston Tjendra, dikutip dari CNN Indonesia. “Meski demikian, hal itu belum membuat Gubernur , Jerome Powell, mengambil keputusan menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.”

Sentimen negatif lainnya datang dari dalam negeri setelah muncul kekhawatiran dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) bahwa kemampuan pemerintah untuk membayar utang dan bunga utang menurun. Pasalnya, telah terjadi tren penambahan utang, terutama akibat pandemi Covid-19, bahkan telah melampaui pertumbuhan domestik bruto (PDB) nasional.

Dari pasar , dolar AS perkasa terhadap mata uang utama pada hari Rabu setelah penurunan dua hari meskipun para Federal Reserve, termasuk Jerome Powell, menegaskan kembali bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat masih jauh. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,103 atau 0,11% ke level 91,859 pada pukul 11.06 WIB.

Semalam, seperti dilansir dari Reuters, baik Powell maupun Presiden The Fed New York, John Williams, memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi membutuhkan lebih banyak waktu sebelum pengurangan stimulus dan pinjaman yang lebih tinggi. Powell dalam pidatonya mengatakan bahwa bank tidak akan menaikkan suku bunga secara preemptive karena khawatir akan kemungkinan terjadinya inflasi.

“Sinyal terbaru dari The Fed semuanya mengarah ke September sebagai pertemuan ketika The Fed kemungkinan besar akan menyatakan bahwa kemajuan substansial lebih lanjut menuju tujuan mereka telah tercapai, atau sedang dicapai,” kata kepala strategi valuta asing di National Australia Bank di Sydney, Ray Attrill. “Pengurangan kemungkinan tidak akan dimulai sampai awal tahun depan.”

Loading...