Dolar Bangkit dari Level Terendah, Rupiah Ditutup Melemah 60 Poin

Rupiah Melemah - tempo.co

harus menutup awal pekan (29/1) ini di zona merah, setelah indeks dolar AS perlahan merangkak naik dari level terendah dalam tiga tahun. Menurut catatan Index pukul 15.59 WIB, Garuda menyelesaikan transaksi dengan pelemahan sebesar 60 poin atau 0,45% menuju level Rp13.366 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup turun 17 poin atau 0,13% di posisi Rp13.306 per dolar AS ketika menyelesaikan transaksi akhir pekan (26/1) kemarin. Tren negatif mata uang NKRI berlanjut tadi pagi dengan dibuka terdepresiasi 9 poin atau 0,07% ke level Rp13.315 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis tidak mampu lepas dari teritori merah, dari awal hingga tutup dagang.

Sementara itu, siang tadi menetapkan berada di level Rp13.327 per dolar AS, melemah 24 poin atau 0,18% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.303 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang juga tidak berdaya versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,19% menghampiri peso Filipina.

Dari global, seperti dikutip Reuters, indeks dolar AS merangkak naik dari posisi terendah pada hari Senin, meski masih berjuang melepaskan pelemahan yang telah dialami selama enam pekan beruntun. Mata uang Paman Sam tersebut terpantau menguat tipis 0,05 poin atau 0,06% ke level 89,117 pada pukul 11.48 WIB, setelah sebelumnya sempat berada di posisi 88,429 atau terendah dalam tiga tahun.

Dolar AS mengalami sedikit kenaikan setelah data PDB Paman Sam yang dirilis pada Jumat kemarin menunjukkan konsumsi domestik dan belanja yang kuat. Departemen Perdagangan AS mengumumkan bahwa tersebut mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 2,6% (year on year) selama kuartal keempat tahun 2017, yang sebenarnya masih di bawah ekspektasi pasar. Investor pun mengharapkan lebih banyak dorongan terhadap dolar AS.

“Saya tidak melihat adanya perubahan dalam tren penurunan yang dialami greenback yang lebih besar,” ujar kepala valuta asing di State Street Bank di Tokyo, Kazushige Kaida. “Namun, mengingat angka PDB AS menunjukkan konsumsi yang kuat, serta imbal hasil obligasi yang meningkat, sulit untuk memperkirakan penurunan tajam dalam dolar AS.”

Loading...