Dolar AS Terus Menguat, Rupiah Tertekan di Pasar Spot

Rupiah - tandichen.blogspot.comRupiah - tandichen.blogspot.com

Jakarta – Nilai tukar dibuka melemah sebesar 33 poin atau 0,23 persen ke posisi Rp 14.085 per AS pada awal pagi hari ini, Rabu (9/5). Kemarin, Selasa (8/5), ditutup terdepresiasi sebesar 51 poin atau 0,36 persen ke level Rp 14.052 per dolar AS setelah diperdagangkan pada kisaran angka Rp 13.930 hingga Rp 14.355 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB indeks dolar AS naik 0,38 persen menjadi 93,097 di tengah Amerika Serikat yang positif dan kekhawatiran isu geopolitik.

Pada Selasa (8/5) sore, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan jika AS akan menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran, perjanjian penting yang ditandatangani pada 2015 lalu. Trump memberikan pernyataan demikian lewat pidato yang ditayangkan lewat televisi. Trump juga menegaskan jika ia tak akan menandatangani surat pelepasan sanksi-sanksi atas Iran terkait nuklir.

Trump menilai bahwa kesepakatan tersebut gagal mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir atau mendukung terorisme di kawasan. Pihak Gedung Putih bersikeras mengambil langkah ini lantaran Trump mengakui dalam pidatonya jika Iran telah mematuhi kesepakatan. Pada Selasa (8/5) indeks dolar AS pun melonjak ke level tertinggi 2018 karena terkena dampak pembelian aset safe haven.

Sedangkan dari sektor ekonomi, Departemen Amerika Serikat melaporkan bahwa jumlah lowongan pekerjaan naik ke angka 6,6 juta pada hari kerja terakhir Maret 2018, melebihi perkiraan sebesar 6,1 juta.

Rupiah sendiri terus melemah karena terpengaruh oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan acuan AS. Pasalnya Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell menuturkan pernyataan bernada hawkish sehubungan dengan perekonomian AS. “Ini membuat peluang AS naik empat kali di tahun ini makin besar,” ujar Analis Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra, seperti dilansir Kontan.

Sementara itu, Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri mengatakan jika rupiah juga melemah karena faktur pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2018 yang berada di bawah perkiraan. “Kalau nantinya data inflasi AS berhasil melebihi target The Fed, besar kemungkinan rupiah akan kembali tertekan,” ujar Reny.

Loading...