Dolar AS Terus Menguat, Rupiah Berhasil Naik Tipis di Pembukaan

Rupiah - jateng.tribunnews.comRupiah - jateng.tribunnews.com

Jakarta – Nilai tukar dibuka menguat sebesar 9,5 poin atau 0,06 persen ke posisi Rp 14.925,5 per di awal perdagangan pagi hari ini, Rabu (5/9). Sebelumnya kurs berakhir anjlok hingga 120 poin atau 0,81 persen menjadi Rp 14.935 terhadap dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah utama masih mempertahankan penguatannya. Pada Rabu (5/9) indeks dolar AS stabil di angka 95,403 setelah mencapai level tertinggi dua minggu di angka 95,737 pada sesi perdagangan sebelumnya. Penguatan USD ini dipicu oleh sentimen eskalasi besar dalam konflik perdagangan Amerika Serikat dengan China.

Ketakutan akan sebuah pukulan terhadap pertumbuhan dari kebijakan proteksi ‘America First’ yang digagas oleh Presiden AS Donald Trump telah membuat pasar dalam keadaan kecemasan yang cukup meningkat untuk sepanjang tahun 2018 ini. Trump dapat menindaklanjuti rencana untuk mengenakan retribusi lebih dari USD 200 miliar pada lebih dari impor China setelah periode komentar publik tentang tarif baru berakhir pada Kamis, meski belum diketahui seberapa cepat itu akan diberlakukan.

“Trump melakukan apa yang dia katakan dalam satu bentuk atau lainnya, jadi saya memperkirakan tarif akan diterapkan,” ujar Ayako Sera, ekonom pasar di Sumitomo Mitsui Trust Bank, seperti dilansir Reuter. “Konsensusnya adalah Trump akan melakukan beberapa tindakan karena semua orang percaya bahwa dia adalah orang yang akan melakukan apa yang telah dia janjikan. Pasar akan terkejut jika dia tidak melakukan apa-apa,” sambungnya.

Dolar AS semakin menguat karena dipicu oleh tingginya ekspektasi terkait kenaikan lanjutan dari Federal Reserve. Dari sektor , aktivitas AS melaju ke lebih dari level tertinggi 14 tahun pada Agustus 2018 karena didorong oleh lonjakan pesanan baru. Sementara itu, mata uang negara berkembang termasuk rupiah jatuh dalam semalam lantaran para khawatir kegiatan ekspor akan terjebak dalam bentrokan konflik perdagangan yang kini semakin memanas.

“Selain itu, sentimen negatif pada mata uang negara berkembang dipengaruhi oleh krisis mata uang Turki dan Argentina. Sentimen negatif pada kedua negara tersebut juga merembet pada negara-negara berkembang yang mengalami isu pelebaran defisit antara lain India dan Indonesia,” ujar Ekonom Permata Bank Josua Pardede, seperti dilansir Detik.

Loading...