Dolar AS Sedikit Tergelincir, Rupiah Menguat Tipis ke Level Rp 13.990/USD

Rupiah - fajar.co.idRupiah - fajar.co.id

Jakarta – Kurs dibuka menguat sebesar 7 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp 13.990 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (25/7). Kemarin, Rabu (24/7), Garuda berakhir terdepresiasi 12 poin atau 0,09 persen ke level Rp 13.997 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau sedikit berubah usai menguat selama 3 hari berturut-turut. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS turun menjadi 97,704, diperdagangkan dalam kisaran yang sempit menjelang pertemuan kebijakan moneter ECB pada Kamis dan Federal Reserve pekan depan.

Pada Rabu (24/7), data AS secara keseluruhan lebih lemah dari prediksi pasar, dengan kegiatan yang melambat mendekati level terendah 10 tahun pada awal Juli. Penjualan rumah baru di Amerika Serikat rebound pada Juni, namun penjualan untuk 3 bulan sebelumnya direvisi lebih rendah. “(data AS) menambah dukungan terhadap ekspektasi luas bahwa Fed akan memangkas minggu depan, meskipun beberapa data keras baru-baru ini relatif,” kata Yasemin Engin, asisten ekonom di Capital Economics London, seperti dilansir Antara.

Dolar AS hanya sedikit bereaksi terhadap kesaksian mantan penasihat khusus Robert Mueller di hadapan Kongres AS, yang mengatakan pada Rabu bahwa dia belum membebaskan Presiden Donald Trump dari penghalang keadilan.

Sementara itu, pelemahan rupiah di perdagangan sebelumnya ditengarai akibat sejumlah sentimen eksternal. Menurut Direktur Utama Garuda Berjangka Ibrahim, dolar AS kemarin memperoleh sentimen positif usai pemerintah AS menyepakati pemerintahan selama 2 tahun ke depan. Hal itu diperkirakan bakal memuluskan pemerintahan AS

Pelaku pasar pun saat ini khawatir dengan perkembangan . “Terpilihnya politikus anti- Boris Johnson sebagai Perdana Menteri Inggris membuat prospek hard Brexit meningkat,” kata Ibrahim, seperti dilansir Kontan. Tak heran jika kemudian para pelaku pasar pun melarikan harta mereka ke aset save haven, termasuk dolar AS.

Selain itu, Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri pun menambahkan bahwa aksi para investor juga cenderung kurang agresif akhir-akhir ini karena masih menanti rapat The Fed. “Di dalam negeri juga minim sentimen,” kata Reny.

Loading...