Dolar AS Rebound Usai Pemilu, Rupiah Keok Lagi di Pembukaan

Rupiah - www.viva.co.idRupiah - www.viva.co.id

Jakarta dibuka melemah sebesar 23,8 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp 14.613,8 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (8/11). Sebelumnya, Rabu (7/11), mata uang Garuda menutup dengan penguatan sebesar 214 poin atau 1,45 persen ke level Rp 14.590 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS naik 3,9 basis poin menjadi 96,031. Dolar AS berhasil rebound karena para pelaku terus berupaya untuk mencerna hasil pemilu sela kongres AS setelah di awal terjadi aksi jual lantaran ekspektasi bahwa hasil pemilu akan membuat langkah-langkah stimulus fiskal lebih lanjut menjadi tidak mungkin.

Sesuai dengan prediksi pasar, hasil pemilihan umum memberikan pemisahan kontrol Kongres Amerika Serikat dengan Demokrat yang memegang kendali di DPR, sedangkan Partai Republik mayoritas unggul di Senat. “Ada perkiraan bahwa jika kita tidak mendapatkan Kongres yang terbagi, kita mungkin melihat sentimen risiko menjadi sedikit goyah, tetapi karena itu tidak terjadi kita memiliki langkah pengambilan risiko,” ujar Ahli Strategi Valuta Asing Senior di TD Securities di New York, Mazen Issa, seperti dilansir Reuters.

Pengamat meyakini bahwa Kongres yang terbagi atau terpecah akan membuat pemotongan dan deregulasi lebih lanjut tidak mungkin terlaksana untuk saat ini, sehingga menyebabkan adanya penurunan awal pada dolar AS. Kemudian pada Rabu (7/11) sore, fokus pun beralih ke The Fed. Federal Reserve dijadwalkan merilis keputusan kebijakannya pada Kamis waktu setempat. The Fed diperkirakan akan kembali menahan suku bunganya dan baru menaikkan pada Desember 2018.

Dari dalam negeri, data yang membaik berhasil memberi suntikan positif bagi rupiah di perdagangan kemarin. Misalnya saja data inflasi Oktober 2018, pertumbuhan nasional di kuartal III, sampai cadangan devisa negara yang kembali naik pada level USD 115,16 miliar bulan lalu. “Kebijakan transaksi Domestic Non-Delivery Forward yang diterapkan BI juga membantu penguatan rupiah,” kata Ekonom Bank Central (BCA) David Sumual.

Sampai akhir tahun nanti, David memprediksi rupiah masih berpeluang bergerak di bawah level Rp 15.000. Tetapi hal itu tergantung dari kelanjutan sentimen eksternal seperti ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS dan perang dagang yang bisa sewaktu-waktu kembali mencuat. “Pernyataan The Fed seusai kenaikan suku bunga AS di Desember nanti juga bisa mempengaruhi prospek rupiah di tahun 2019,” tandasnya.

Loading...