Dolar AS Melemah, Rupiah Rebound 30 Poin ke Level Rp 14.845/USD di Awal Dagang

Rupiah - ekonomi.kompas.comRupiah - ekonomi.kompas.com

Jakarta mengawali pagi hari ini, Kamis (20/9) dengan penguatan sebesar 30 poin atau 0,20 persen ke posisi Rp 14.845 per AS. Kemarin, Rabu (19/9), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 20 poin atau 0,13 persen ke level Rp 14.875 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur gerak the terhadap enam mata uang utama terpantau melemah. Di akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, dolar AS melemah tipis terhadap euro dan jatuh ke level terendah hampir 3 minggu terhadap dolar Australia. Dolar AS melemah di tengah kekhawatiran terkait perang dagang antara China dengan Amerika Serikat yang berkurang.

Pada Selasa (18/9) lalu, China menerapkan tarif baru atas -barang AS senilai USD 60 miliar seperti yang telah direncanakan, namun menurunkan tingkat tarifnya. Sementara itu tarif baru yang ditetapkan oleh pihak Amerika Serikat sekarang ini sebesar 10 persen, sebelum naik jadi 25 persen di akhir tahun 2018, bukan langsung diterapkan sebesar 25 persen. “Reaksi pasar tampaknya menunjukkan bahwa pengumuman tarif secara keseluruhan pada sisi lemah dari ekspektasi pasar,” ujar Alvise Marino, ahli strategi valas Credit Suisse di New York, seperti dilansir Reuters.

Para pelaku pasar juga kini tengah menanti hasil pertemuan pada pekan depan. The Fed diprediksi bakal menaikkan suku bunga acuan dan menjelaskan jalur untuk kenaikan suku bunga acuan berikutnya.

Sementara itu, menurut Chief Economist Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro meski rupiah masih melemah, sebenarnya rupiah masih menunjukkan perbaikan di pasar spot pada perdagangan kemarin. “Selanjutnya menguat karena China mulai mengurangi porsi kepemilikan di surat utang AS,” ujar Satria, seperti dilansir Kontan.

Perlawanan China terhadap penetapan tarif impor AS juga kabarnya telah memberi suntikan terhadap mata uang regional di pasar, termasuk rupiah. Satria berpendapat, pernyataan Perdana Menteri China yang tidak akan mendevaluasi mata uang yuan bisa memberi sentimen positif pada rupiah dalam perdagangan hari ini.

Kemudian Direktur Garuda Berjangka Ibrahim menambahkan, Bank Indonesia (BI) bulan ini juga kemungkinan akan kembali menaikkan suku bunga seiring dengan rencana kenaikan suku bunga The Fed. Hal itu juga digadang-gadang bakal menopang gerak rupiah meski dari sisi eksternal rupiah masih tertekan oleh sentimen perang dagang yang kemungkinan akan terus berlanjut.

Loading...