Dolar AS Masih Perkasa, Rupiah Belum Mampu Beranjak dari Zona Merah

Rupiah - www.tempo.coRupiah - www.tempo.co

Jakarta rupiah mengawali pagi hari ini, Kamis (1/3) dengan pelemahan sebesar 11 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp 13.762 per AS. Kemarin, Rabu (28/2), Garuda mengakhiri perdagangan dengan pelemahan 72 poin atau 0,53 persen ke level Rp 13.751 per USD usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.699 hingga Rp 13.773 per USD.

Hingga saat ini indeks masih terpantau menguat terhadap sejumlah mata uang utama. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, naik 0,35 persen menjadi 90,648. The masih melanjutkan penguatannya di tengah spekulasi pasar terkait tingkat kenaikan acuan yang lebih agresif sepanjang tahun 2018 ini.

Pada Selasa, Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyatakan bahwa meskipun sempat terjadi volatilitas di pasar keuangan, gubernur The Fed masih berencana untuk mengerek suku bunga beberapa kali sepanjang tahun ini. Powell juga mengatakan pada anggota parlemen jika pengurangan kebijakan moneter secara bertahap akan menopang pasar tenaga kerja yang kuat dan mendorong naiknya inflasi sekitar 2 persen.

Ketua The Fed yang baru saja dilantik ini mengisyaratkan jika pihak bank sentral Amerika Serikat dapat menaikkan suku bunga acuan lebih dari 3 kali tahun ini apabila dan inflasi Amerika Serikat terbukti positif.

Dari dalam negeri, kurs rupiah masih belum mampu bangkit dari zona merah meski cadangan devisa Indonesia pada bulan Februari 2018 diperkirakan akan mencapai rekor tertinggi. Tambahan utang green bond Sukuk Wakalah sebesar USD 3 miliar dipastikan akan menambah jumlah cadev yang pada Januari lalu mencapai USD 131,9 miliar.

Menurut Analis Valbury Futures Lukman Leong, respons pasar terhadap testimoni Powell yang cenderung hawkish memang tak bisa dibendung. “Pidatonya menguatkan ekspektasi The Fed akan menaikkan suku bunga AS lebih banyak dan lebih cepat daripada perkiraan,” kata Lukman, seperti dilansir Kontan.

Lukman menambahkan, data inflasi yang semakin anjlok justru dapat menjadi sentimen negatif terhadap rupiah. “Pasar khawatir target pertumbuhan ekonomi tidak terwujud kalau inflasi semakin rendah,” pungkasnya.

Loading...