Dolar AS Masih Loyo, Rupiah Melaju 5 Poin di Awal Perdagangan

Jakarta rupiah dibuka menguat 0,04 persen atau 5 poin ke posisi Rp 13.343 per dolar AS pada awal pagi hari ini, Jumat (14/7). Kemarin, Kamis (13/7) mata uang Garuda berakhir 0,16 persen atau 22 poin ke level Rp 13.348 per dolar AS usai diperdagangkan berkisar antara Rp 13.323 hingga Rp 13.351 per dolar AS di spot.

Sementara itu, dolar Amerika Serikat diperdagangkan bervariasi terhadap sejumlah mata uang lainnya pada perdagangan Kamis pagi atau Jumat WIB. Para kini tengah memilah berbagai terbaru yang telah dirilis.

Seperti dilaporkan oleh Departemen AS, pada pekan yang berakhir 8 Juli 2017, angka pendahuluan untuk klaim pengangguran awal disesuaikan secara musiman mencapai 247.000, turun 3.000 dari tingkat direvisi pekan sebelumnya. Sedangkan Indeks Harga yang disesuaikan secara musiman untuk permintaan akhir meningkat 0,1 persen pada Juni, melebihi ekspektasi pasar. Harga permintaan akhir tidak berubah pada Mei dan naik 0,5 persen pada April.

Penguatan rupiah sendiri didominasi oleh faktor global, terutama pasca testimoni Gubernur The Fed Janet Yellen yang bernada dovish. Lewat kesaksiannya di hadapan kongres, Yellen mengatakan jika pihaknya akan menunda kenaikan suku bunga sampai angka inflasi di AS mencapai 2 persen.

Menurut Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, para pelaku pasar kini masih mengantisipasi timing kenaikan suku bunga Federal Reserve. “Pernyataan Yellen itu memang sedikit di bawah ekspektasi pasar, makanya USD justru turun,” ujar Josua, seperti dilansir Kontan.

Di sisi lain, Research & Analyst Tradepoint Futures, Andri Hardianto menyebutkan jika faktor lain yang turut menyokong gerak rupiah adalah harga minyak dan komoditas lainnya seperti tembaga, nikel, dan gas alam yang kini tengah menguat. “Itu juga membantu menguatkan rupiah untuk hari ini dan kemarin,” papar Andri.

Walau begitu, Andri dan Josua kompak mengungkapkan jika sentimen negatif kemungkinan datang dalam negeri dan berpotensi membuat rupiah tertekan pekan depan. Misalnya saja rilis data ekonomi Indonesia yang kurang positif dan cadangan devisa yang menyusut dari USD 125 miliar menjadi USD 123 miliar.

Loading...