Dolar AS Manfaatkan Momentum FOMC, Rupiah Bisa Kembali Terkapar

Momen pertemuan The Federal Open Market Committee () yang berlangsung pada 15-16 Maret waktu setempat, tampaknya dimanfaatkan dolar AS untuk menguat. Hal ini membuat laju rupiah sepanjang perdagangan (16/3) diprediksi akan kembali mengalami pelemahan.

Bloomberg Index mengemukakan, pada hari ini rupiah dibuka 13 poin atau 0,1% ke Rp13.177 per dolar AS. Garuda kembali terdepresiasi 16 poin atau 0,12% ke level Rp13.180 per dolar AS pada pukul 08.33 WIB. Di sisi lain, indeks dolar AS terpantau menguat tipis 0,01% ke 96,633 pada Selasa atau Rabu pagi WIB.

“Dolar AS menguat, sedangkan komoditas turun jelang FOMC meeting,” papar Ekonom Samuel Sekuritas , Rangga Cipta. “Dolar menguat terhadap mayoritas kurs , dan imbal hasil US Treasury 10 tahun naik menjelang rilis FOMC meeting pada Kamis dini hari.”

Ditambahkan Rangga, jika FOMC meeting masih pesimistis terhadap AS dan global, dolar AS seharusnya kembali ke tren pelemahan. “Namun sepertinya, meski pasar meyakini belum akan ada kenaikan The Fed pada pertemuan Maret ini, indeks dolar AS nampaknya mengambil kesempatan menguat di tengah agenda rapat tersebut,” sambungnya.

Sementara menurut Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada, selain menguatnya dolar AS, pelemahan rupiah juga dipicu pemangkasan outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia 2016 menjadi 5,1% oleh Bank Indonesia. “Meski neraca perdagangan Indonesia dirilis surplus, bahkan di atas ekspektasi konsensus, data ekonomi tersebut belum mampu menahan pelemahan rupiah,” kata Reza.

“Apalagi, laju rupiah telah menguat dalam beberapa hari terakhir sehingga lebih besar peluang pelemahannya,” sambungnya. “Rupiah akan sedikit tertekan di level support Rp13.100 per dolar AS dan resisten Rp13.079 per dolar AS.”

Loading...