Dolar AS Lanjutkan Penguatan, Rupiah Belum Mampu Beranjak dari Level Rp 15.000/USD

Rupiah - www.detikepri.comRupiah - www.detikepri.com

Jakarta – Kurs dibuka melemah 22,8 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp 15.065,3 di awal perdagangan pagi hari ini, Rabu (3/10). Kemarin, Selasa (2/10), Garuda berakhir terdepresiasi 132 poin atau 0,89 persen ke level Rp 15.043 per USD.

Indeks AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama sendiri terpantau masih melanjutkan relinya. Di akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks AS dilaporkan naik 0,22 persen menjadi 95,5108 lantaran pound sterling Inggris dan euro melemah di tengah ketidakpastian di Eropa usai perselisihan terkait defisit anggaran Italia.

Italia mengajukan anggaran 2019 dengan defisit yang meningkat jadi 2,4 persen dari bruto (PDB) Italia. Walaupun masih berada di bawah batas Uni Eropa sebesar 3 persen, namun angka itu diperkirakan akan menjadi 3 kali lipat dari target defisit pemerintah sebelumnya. Walaupun menteri-menteri keuangan zona euro mendesak Roma untuk mempertimbangkan kembali rencana peningkatan defisitnya, Italia tetap bersikeras mempertahankan target defisit di angka 2,4 persen.

Di sisi lain, pada Selasa (2/10), Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan bahwa pasar tenaga kerja tidak terlalu panas (overheating) dan The Fed diperkirakan tetap berada pada jalurnya saat ini dengan kenaikan acuan secara bertahap.

Sementara itu, Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro berpendapat jika anjloknya rupiah saat ini dipengaruhi oleh dua sentimen utama, yang pertama karena kenaikan indeks dolar AS, sedangkan yang kedua karena minyak mentah dunia yang mengalami kenaikan. “Kenaikan minyak dunia bakal berpengaruh negatif pada neraca dagang Indonesia,” ujar Satria, seperti dilansir Kontan.

Dolar AS sendiri makin perkasa usai adanya kesepakatan pakta perdagangan trilateral baru North American Free Trade Agreement (NAFTA) antara AS, Kanada dan Meksiko. Kesepakatan tersebut memberi penyelamatan zona perdagangan bebas NAFTA senilai USD 1,2 triliun. Terlebih karena para pelaku pasar pun masih memutuskan untuk menyimpan dolar AS sebagai aset safe haven di tengah kondisi perang dagang yang sedang berlangsung.

Loading...