Dolar AS Keok Akibat Pernyataan Trump, Rupiah Melaju di Awal Dagang

Jakarta – Nilai tukar pagi hari ini, Kamis (24/8) dibuka 7 poin atau 0,06 persen ke posisi Rp 13.352 per . Kemarin, Rabu (23/8) rupiah berakhir terdepresiasi 15 poin atau 0,11 persen ke level Rp 13.359 per dolar AS usai diperdagangkan pada kisaran Rp 13.335 hingga Rp 13.361 per dolar AS.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan dolar AS terhadap beberapa mata uang utama terpantau melemah 0,41 persen menjadi 93,160 di akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB (24/8) karena terdampak oleh pernyataan terbaru dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Pada Selasa (22/8) lalu di Arizona Trump menuturkan bahwa ia bersedia membiarkan ditutup tanpa alokasi untuk tembok perbatasan. Ia pun juga mengungkapkan keraguannya terkait kemungkinan AS mencapai kesepakatan dengan Kanada dan Meksiko sehubungan dengan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara.

Bahkan Trump mengatakan bila pemerintah AS juga mungkin akan menghentikan perjanjian perdagangan. Pernyataan Trump tersebut membuat gerak the merosot pada Rabu (23/8) dan mengakibatkan sejumlah mata uang safe haven diperdagangkan lebih tinggi di spot.

Di sisi lain, meski mata uang Garuda sempat melemah, namun efek pemangkasan suku bunga BI 7-Day Reverse Repo Rate tetap mampu menjaga rupiah untuk bergerak di level yang aman. “Rupiah memang melemah namun terbatas, masih dalam range aman,” kata Lana Soelistianingsih, ekonom Samuel Sekuritas, Rabu (23/8) kemarin, seperti dilansir Kontan.

Lebih lanjut Lana menuturkan bahwa turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia hingga kini masih jadi katalis negatif lantaran respons pasar kurang positif. “Kalau ada penurunan hingga 2 sampai 3 kali, baru bisa dinilai membantu laju , kalau baru hanya sekali itu belum,” ujar Lana.

Lana memperkirakan jika simposium tahunan bank sentral yang akan digelar pada Kamis (24/8) dan Jumat (25/8) besok bisa menjadi sentimen positif untuk rupiah. Pasalnya, ia memprediksi bahwa dan ECB kemungkinan belum akan menaikkan suku bung acuannya secara agresif dalam waktu dekat ini. “Soalnya inflasi masih dianggap rendah, mereka tidak akan buru-buru menaikkan suku bunga,” tandasnya.

Loading...