Dolar AS Kehilangan Tenaga, Rupiah Berhasil Rebound ke Level Rp 15.213/USD

Rupiah - www.beritasatu.comRupiah - www.beritasatu.com

Jakarta rupiah dibuka menguat 25 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp 15.213 per AS di awal pagi hari ini, Rabu (10/10). Kemarin, Selasa (9/10), kurs mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 20 poin atau 0,13 persen ke level Rp 15.238 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the rupanya menghentikan reli berkepanjangannya terhadap sejumlah mata uang utama. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS melemah 0,11 persen menjadi 95,651 usai mencapai level tertinggi 7 pekan di angka 96,155 akibat imbal hasil obligasi yang menurun. Dolar AS disebut-sebut melemah karena pound sterling menguat usai laporan bahwa Inggris dan Uni Eropa hampir mencapai kesepakatan Brexit.

Para pelaku dilaporkan menjual obligasi Amerika Serikat sejak pekan lalu di tengah kekhawatiran bahwa kemungkinan akan mempercepat dan mendorong Federal Reserve untuk menaikkan acuannya. Euro tertolong laporan Dow Jones bahwa kesepakatan terkait persyaratan untuk Inggris meninggalkan blok ekonomi bisa segera tercapai.

Euro melemah lantaran sebelumnya ada kekhawatiran sehubungan dengan ketegangan yang terjadi antara Uni Eropa dengan Italia. “Itu membalik segalanya. Ini menyelamatkan luka terbuka dari negosiasi Italia,” ujar Direktur Pelaksana Strategi Boris Schlossberg, seperti dilansir Reuters.

Di sisi lain, rupiah kemarin melemah lantaran tingkat pengangguran AS bulan September 2018 membaik ke angka 3,7 persen, level terendah sejak tahun 1970 silam. Data tersebut berhasil mengerek USD dan sekaligus mengonfirmasi pernyataan Gubernur Federal Reserve Jerome Powell terkait kondisi perekonomian AS yang cenderung membaik dan berpotensi mendorong kenaikan inflasi. “Data ini juga mendukung kenaikan suku bunga AS lebih agresif dalam jangka pendek,” kata Ekonom Bank Permata Josua Pardede, seperti dilansir Kontan.

Analis Trade Point Futures Andri Hardianto menambahkan, rupiah pun tertekan oleh kenaikan minyak dunia yang diprediksi akan memperlebar defisit transaksi berjalan. Meski demikian, menurut Andri rupiah masih berpeluang untuk menguat walau secara teknis. “Kalau sudah menyentuh angka psikologisnya, bisa terjadi rebound,” tutur Andri.

Loading...