Dolar AS Fluktuatif Jelang Simposium, Rupiah Naik 5 Poin di Pembukaan

Jakarta – Mengawali perdagangan akhir pekan ini, dibuka 5 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp 13.341 per AS pada hari Jumat (25/8). Sebelumnya, Kamis (24/8) rupiah berakhir terapresiasi 13 poin atau 0,10 persen ke level Rp 13.346 per AS usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.343 hingga Rp 13.357 per AS.

Rupiah berhasil memanfaatkan momentum untuk terus melaju di zona hijau di tengah penantian pasar menjelang simposium bank sentral . Acara tahunan yang diselenggarakan oleh ini akan berlangsung pada 24-26 Agustus 2017 di Jackson Hole Wyoming. “Pasar wait and see simposium Jackson Hole sehingga dollar AS cukup fluktuatif,” kata Lukman Leong, Research & Analyst Valbury, Kamis (24/8) seperti dilansir Kontan.

Meski selama beberapa hari ini rupiah terus bergerak naik, namun Lukman berpendapat bahwa mata uang Garuda cenderung tertekan usai Bank (BI) memutuskan untuk memangkas acuannya menjadi 4,5 persen.

Senada, Reza Priyambada, Analis Binaartha Sekuritas memprediksi jika gerak rupiah akan terhambat karena terpengaruh oleh sentimen seperti pertemuan di Jackson Hole hari ini. Menurut Reza, para pelaku pasar kemungkinan akan lebih fokus mencermati penyampaian pandangan moneter dari European Central Bank (ECB) dan . “Dampaknya kemungkinan dapat membuat mata uang EUR dan USD akan kembali fluktuatif,” papar Reza.

Rupiah terapresiasi akibat dolar AS yang melemah setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengancam akan menghentikan operasional pemerintahan AS bila rencana pembangunan tembok pembatas Amerika-Meksiko tak disetujui. Dari faktor dalam negeri, rupiah disokong sentimen positif seperti perkiraan BI yang mengungkapkan bahwa ekonomi Indonesia berpeluang tumbuh antara 5,3 sampai 5,7 persen pada tahun 2019 mendatang.

Di samping itu, pertumbuhan kredit sampai bulan Juli 2017 telah menyentuh angka 8,20 persen, termasuk pada dana pihak ketiga dan penghimpunan dana melalui asuransi yang juga dilaporkan meningkat. Sentimen positif lainnya berasal dari penetapan satu bahan bakar minyak di wilayah timur Indonesia untuk mengurangi kesenjangan dan kenaikan inflasi.

Loading...