Dolar AS Belum Mampu Bangkit, Rupiah Asyik Melenggang di Zona Hijau

Jakarta – Berdasarkan dari Index, kurs dibuka 11 poin atau 0,08 persen pada level Rp 13.298 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Rabu (19/7). Kemarin, Selasa (18/7) mata uang Garuda berakhir terapresiasi 0,13 persen atau 17 poin ke posisi Rp 13.309 per AS usai diperdagangkan antara Rp 13.303 hingga Rp 13.322 per AS.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah 0,55 persen menjadi 94,608 di akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB. Dolar AS melemah di tengah penguatan harga emas dunia.

Kontrak emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange berhasil naik pada perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Harga emas naik akibat dolar AS yang tengah berada pada tren penurunan. Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus naik USD 8,2 atau 0,66 persen menjadi USD 1.241,90 per ounce.

Sementara itu harga logam mulia yang lain seperti perak untuk pengiriman September naik 16,9 sen atau 1,05 persen menjadi ditutup pada USD 16,268 per ounce, dan harga platinum untuk pengiriman Oktober tak berubah pada level USD 930,30 per ounce.

Menurut Research & Analyst Valbury Asia Futures, Lukman Leong, dolar AS terus melemah akibat pernyataan Gubernur Federal Reserve (The Fed) Janet Yellen yang bernada dovish. “Data inflasi dikhawatirkan turun, sehingga besar kemungkinan kenaikan tahun ini yang harusnya sekali lagi malah tidak jadi,” kata Lukman seperti dilansir Kontan.

Karena mengalami tekanan yang cukup besar, rupiah dan mata uang negara lainnya seperti dollar Singapura dan won Korea pun kini menguat. Di sisi lain Ekonom Bank Central Asia, David Sumual yang mengatakan bahwa data China yang membaik juga turut memberikan dukungan bagi rupiah untuk menguat terhadap dolar AS.

(PDB) China pada kuartal II 2017 naik 6,9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 6,8 persen. Mata uang Garuda juga berhasil menguat berkat data dari dalam negeri berupa Indonesia pada bulan Juni 2017 yang mengalami surplus sebesar USD 1,63 miliar.

Loading...