Dolar AS Anjlok Usai FOMC Meeting, Rupiah Diramal Kembali Menguat

diramal akan kembali menguat pada perdagangan Kamis (16/6) ini merespon AS yang usai FOMC meeting. Selain itu, meski surplus neraca perdagangan menipis, namun hal tersebut justru dibaca sebagai sinyal penguatan .

Menurut catatan Bloomberg Index, rupiah mengawali perdagangan dengan dibuka menguat 42 poin atau 0,31% di level Rp13.313 per dolar AS. Kemudian, mata uang Garuda kembali 33 poin atau 0,25% ke posisi Rp13.322 per dolar AS pada pukul 08.24 WIB.

“Rupiah hari ini diperkirakan menguat seiring melemahnya dolar usai FOMC meeting,” papar Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Adapun fokus dalam negeri akan tertuju pada Rapat Dewan Gubernur BI yang akan disimpulkan hari ini dan finalisasi RUU tax amnesty.”

Ditambahkan Rangga, meski sinyal kenaikan The Fed dua kali masih ada, namun lebih banyak anggota The Fed yang memperkirakan kenaikan tunggal di tahun 2016. “Fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada inflasi AS nanti malam serta perkembangan isu Brexit,” sambungnya.

Sementara itu, Analis Tresuri BNI, Resti Afiandinie, mengungkapkan bahwa meski neraca perdagangan Mei 2016 mengempis, namun pasar tetap memandang . Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan surplus 375,5 juta dolar AS, dengan ekspor 11,51 miliar dolar AS dan 11,14 miliar dolar AS. “Pasalnya, penurunan ekspor dan tidak setajam bulan sebelumnya,” urai Resti.

Pada perdagangan Rabu (15/6) kemarin, rupiah mampu ditutup di zona hijau dengan penguatan sebesar 38 poin atau 0,28% ke level Rp13.355 per dolar AS. Penguatan rupiah salah satunya dipicu melemahnya indeks dolar AS sebesar 0,12 poin atau 0,13% ke level 94,808 pada Rabu sore.

Loading...