Dokumen Bocor, China Tangkap Muslim Uighur karena Alasan Agama

Minoritas Muslim Uighur China - www.inews.idMinoritas Muslim Uighur China - www.inews.id

XINJIANG – Baru-baru ini, sebuah bocor ke publik, mengonfirmasi dan bagaimana cara memperlakukan minoritas Muslim Uighur. Dalam dokumen setebal 137 halaman tersebut, menunjukkan bahwa Negeri Tirai Bambu memenjarakan Uighur berdasarkan praktik dan budaya mereka, dan bukan karena perilaku ekstremis yang selama ini diklaim pihak berwenang.

Dilansir Deutsche Welle (DW), dokumen yang bocor itu dengan cermat mencantumkan nama dan nomor ID dari 311 warga Uighur yang ditahan pada tahun 2017 dan 2018. Kasus mereka termasuk rincian keluarga, tetangga, dan teman tahanan. Sementara, daftar tahanan menyebutkan lebih dari 1.800 orang dengan nama lengkap, ID, dan informasi tentang perilaku , misalnya jika seseorang salat di rumah atau membaca Al Quran. Semua kasus yang terdaftar adalah warga Uighur dari Kabupaten Karakax, bagian Prefektur Hotan di barat daya Xinjiang, dekat perbatasan India dan Tibet.

Setiap langkah etnis Uighur di Xinjiang dipantau oleh kamera dengan perangkat lunak pengenal wajah dan aplikasi smartphone. Beberapa orang menjadi sasaran karena mereka memiliki lebih dari jumlah anak yang diizinkan secara , sedangkan yang lain karena mereka telah mengajukan paspor. Beberapa pria ditahan hanya karena mereka menumbuhkan janggut. Bahkan, ada yang ditahan karena dia mengunduh video keagamaan sekitar enam tahun yang lalu.

Beberapa ahli sepakat bahwa dokumen besar, satu file PDF tanpa cap atau stempel resmi, kemungkinan autentik berdasarkan konten dan bahasanya. Pengakuan sejumlah warga Uighur serta kerabat dalam daftar makin menguatkan fakta-fakta kunci. Abduweli Ayup, seorang akademisi yang menghabiskan 15 bulan di penjara karena mencoba membuka sekolah bahasa Uighur di Xinjiang, menuturkan bahwa dia sudah dipantau oleh otoritas Tiongkok. Beberapa anggota keluarga istrinya di Xinjiang telah ditangkap dalam beberapa bulan terakhir.

Ayup memutuskan untuk go public, meskipun ada risiko untuk keluarganya di rumah. Tidak lama sebelum dia secara pribadi bertemu dengan DW, dia menerima panggilan telepon yang mengancam dan memperingatkannya untuk mundur. “Ya, itu berbahaya. Namun, seseorang harus berbicara dan memberi tahu dunia apa yang sedang terjadi,” ujar Ayup.

Salah satu orang yang dihubungi Ayup adalah Rozinisa Memet Tohti, seorang ibu rumah tangga dan ibu tiga anak di usia pertengahan 30-an. Dalam sebuah wawancara dengan DW, Tohti mengatakan dia patah hati setelah diberitahu bahwa adik perempuannya yang termuda ada dalam daftar. “Saya tidak bisa makan dan tidur selama berhari-hari. Saya tidak pernah mengira adik perempuan saya yang bungsu akan dipenjara,” ujarnya.

Di Xinjiang, orang-orang di daerah pedesaan diperbolehkan memiliki tiga anak, sedangkan mereka di kota-kota dapat memiliki dua anak. Namun, banyak warga Uighur tidak mematuhi kebijakan tersebut, dan secara keliru menganggap bahwa hukumannya hanya berupa denda. Adik perempuan termuda Tohti lantas ditangkap karena dia memiliki terlalu banyak anak, dan dokumen itu menjelaskan kasusnya secara rinci.

Pihak berwenang China sudah sering mengatakan bahwa kamp-kamp adalah kebijakan melawan militansi, dan ada alasan sah bagi mereka untuk khawatir tentang ekstremisme Uighur. Namun, dengan kedok memerangi terorisme, kebijakan Tiongkok tampaknya menghukum seluruh , menargetkan bahasa, agama, dan budaya Uighur, serta menempatkan orang di bawah pengawasan elektronik konstan dan ketat.

Sulit untuk mengatakan dengan tepat berapa banyak yang telah dipenjara. Menurut perkiraan, setidaknya 1 juta dari sekitar 10 juta warga Uighur yang tinggal di Xinjiang telah menghilang ke dalam jaringan penjara dan kamp yang dibangun oleh otoritas Tiongkok. Laporan dari wilayah tersebut menunjukkan bahwa beberapa tahanan ditahan tanpa batas waktu, sementara yang lain dipindahkan ke kamp kerja paksa. Mereka yang diizinkan pulang, dijaga di bawah pengawasan ketat otoritas lokal dengan gerak terbatas.

Muslim Uighur telah lama menghadapi diskriminasi budaya dan politik di China, yang telah menyebabkan ketidakpuasan dan kekerasan yang meluas. Seorang pria Uighur mengatakan dia telah melakukan perjalanan ke Suriah pada tahun 2015 dengan sekelompok 50 hingga 60 orang untuk pelatihan militer oleh anggota Tentara Pembebasan Suriah (FSA). Ia diajari cara menggunakan senapan Kalashnikov dan menembakkan artileri.

Dia menambahkan, tujuan dari kamp pelatihan enam bulan di Suriah adalah untuk kembali ke Xinjiang dan melawan Partai Komunis Tiongkok. Kelompok itu berencana untuk menargetkan situs militer, dan setiap orang China Han yang bekerja untuk pemerintah adalah target yang sah. Meski sejauh ini rencana itu telah dicabut karena beberapa anggota kelompok telah ditahan di Turki dan Eropa, dia mengatakan bahwa masih menunggu kesempatan untuk mewujudkannya kembali.

Loading...