Diupayakan Turun, Biaya Produksi Minyak Mentah di Indonesia Lebih Dari $ 20 Per Barel

harga, produksi, minyak, mentah, per, barel, konsumsi, indonesia, 2017, dunia, tinggi, opec, sanksi, iran, amerika serikat, nuklir, hari, nasional, rata-rata, pertamina, migas, naik, ketat, level, turunPabrik pengolahan minyak mentah

merupakan salah satu kebutuhan masyarakat di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia sendiri, menurut Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Wisnu Prabawa Taher menyebutkan bahwa untuk biaya minyak (mentah) Pertamina berkisar di atas $ 20 per barel. “Rata-rata nasional sekitar $ 18-19 per barel,” kata Wisnu.

Biaya produksi tersebut sudah mengalami penurunan. SKK Migas sampai saat ini masih berusaha terus mendorong agar harga bisa menurun. Penyebab biaya produksi masih relatif tinggi dikarenakan Pertamina memiliki banyak lapangan migas.

“Dari Sabang sampai Merauke. Mereka masih dalam supaya efisiensi, terkait pengadaan mungkin harus bersamaan,” terang Wisnu.

Wisnu belum dapat menyampaikan target biaya produksi Pertamina tahun 2018 untuk bisa lebih efisien. Sebab, terdapat komponen biaya investasi yang bertambah di Pertamina, khususnya untuk pengembangan bisnis.

“Saya harus lihat dulu, tidak tahu apa bisa menjadi $ 20, tapi secara operasional harus bisa lebih efisien,” tutur Wisnu.

Sedangkan, untuk minyak dalam negeri sendiri, diperkirakan sekitar 1,6 juta barel per hari. Sedangkan, produksi minyak di Indonesia rata-rata mencapai 800.000 barel per hari.

“Bisa dibayangkan begitu besar impor minyak yang kita lakukan, yang dirata-ratakan sekitar 800.000, bahkan bisa lebih karena sebagian minyak kita diekspor ke luar karena tidak bisa dilakukan pengelolaan di dalam negeri,” kata Supriono, Kepala Urusan Administrasi dan Keuangan SKK Migas.

Sementara itu, jika memantau pergerakan harga minyak dunia, harganya ditutup cukup tinggi, bahkan dinilai mendekati posisi tertinggi November 2014. Harga minyak naik seiring dengan pengetatan pasar di tengah pemangkasan produksi oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) ditambah sanksi terhadap Iran. Pemberlakuan sanksi dari terhadap Iran membuat pasar semakin ketat, sehingga minyak semakin menguat.

Harga minyak mentah Brent, yang menjadi patokan dunia naik $ 1,11 dan menetap di $ 78,37 per barel pada pukul 00.28 GMT. Minyak Brent mengalami kenaikan sebesar 14 sen dari penutupan terakhir dan tidak jauh dari level tertinggi tiga setengah tahun mencapai $ 78,53 per barel.

Sedangkan, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 13 sen menjadi $ 71,89 per barel. Perbedaan harga antara Brent dan WTI dianggap sebagai perbedaan yang terbesar sejak lonjakan produksi AS.

Energy Information Administration menyatakan bahwa produksi minyak mentah AS diperkirakan mencapai 7,18 juta barel per hari yang merupakan rekor tertinggi. Namun, produksi minyak AS yang tinggi ini sangat kontras dengan produksi dari negara-negara yang bergabung dalam OPEC. Perbedaan produksi tersebut mampu mendorong harga minyak menguat.

“Angka produksi OPEC turun drastis terutama dari Venezuela dan mampu menyeimbangkan pasokan dengan permintaan,” jelas analis Again Capital LLC, John Kilduff.

Pasar pada umumnya diperketat saat OPEC, yang dipimpin oleh Arab Saudi, berkomitmen menahan pasokan sejak 2017 untuk mendorong harga minyak. Ditambah dengan sanksi baru AS terhadap anggota OPEC yakni Iran saat permintaan menguat, para analis mengatakan harga minyak dunia mendapatkan dukungan besar.

“Komitmen Arab Saudi dan anggota OPEC lainnya terhadap pengurangan produksi merupakan faktor utama dalam mendukung harga pada saat ini. Serta kemungkinan berkurangnya dari Iran karena sanksi yang kembali dijatuhkan AS,” kata William O’Loughlin, analis investasi di Rivkin Securities.

Pengetatan pasar minyak telah menghapus semua pasokan yang melemahkan harga minyak mentah dan tertekan antara akhir 2014 hingga awal 2017. Angka yang diumumkan OPEC menunjukkan bahwa persediaan minyak di negara-negara OECD pada Maret 2017 turun menjadi 9 juta barel di atas rata-rata lima tahun, yaitu turun dari 340 juta barel di atas rata-rata pada Januari 2017.

Loading...