Diskusi AS-China Tekan Dolar, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah - www.lintasgayo.comRupiah - www.lintasgayo.com

JAKARTA – Rupiah berhasil mempertahankan posisi di zona hijau pada Rabu (9/1) sore, ketika indeks dolar AS bergerak turun akibat optimisme kesepakatan perang yang mengatrol mayoritas kurs Asia. Menurut laporan Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda mengakhiri dengan menguat 23 poin atau 0,16% ke level Rp14.125 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.120 per dolar AS, terdepresiasi 89 poin atau 0,63% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.031 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia justru perkasa versus , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,23% menghampiri yuan China.

Dari pasar , indeks dolar AS terpantau bergerak lebih rendah pada hari Rabu, di tengah optimisme bahwa China dan AS mungkin akan segera mencapai kesepakatan perdagangan dan kenaikan . Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,114 poin atau 0,15% menuju level 95,759 pada pukul 12.50 WIB, setelah kemarin berakhir menguat 0,237 poin atau 0,25% di posisi 95,903.

Seperti diberitakan Reuters, laporan yang menyebutkan bahwa China dan AS telah sepakat untuk memperpanjang pembicaraan perdagangan di Beijing pada hari ini mendorong kenaikan harga minyak, dengan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS mencapai level 50 dolar AS per barel untuk pertama kalinya tahun ini. Hal ini pun memicu permintaan untuk aset berisiko dan mata uang dari negara-negara berkembang.

“Pasar menemukan kenyamanan dalam kenyataan bahwa harga minyak WTI telah bergeser di atas 50 dolar AS per barel,” kata ahli strategi mata uang senior di Daiwa Securities, Yukio Ishizuki. “Mata uang terkait komoditas berkinerja kuat sebagai hasilnya, setelah minyak WTI cenderung tidak dapat melewati level penting psikologis selama sesi perdagangan sebelumnya.”

Perundingan perdagangan tingkat menengah antara AS dan China di Beijing diperpanjang menjadi hari ketiga pada Rabu ini, meskipun tidak direncanakan sebelumnya. Mayoritas mata uang di Asia, terutama China, menguat akibat didorong optimisme bahwa pemerintah AS dan China akan mampu mengenyahkan konflik perdagangan di antara kedua negara.

Loading...